Lockerz Warriors (ReWrite) — Bagian 4

Setiap menjelang waktu makan, tidak ada satu pun pekerja di dapur istana yang bisa bersantai. Para juru masak sibuk mengolah makanan sementara para asistennya sibuk membantu dan menyiapkan segala keperluan. Suasana di dapur istana pada saat-saat seperti itu benar-benar ramai dan sibuk, sehingga jika ada orang asing yang masuk tidak akan menjadi perhatian. Jangankan diperhatikan, dilihat saja tidak. Seseorang ini masuk dari pintu belakang. Benar-benar tidak ada satu pun yang memperhatikan. Orang ini mendekati seorang juru masak yang terdekat.

“Dimana bahan makanan untuk para tahanan yang baru datang tadi?” tanya orang ini.

“Ada di pojok sana,” jawab si juru masak. Dia menunjuk pada suatu arah tapi tidak mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang bertanya. Dia mengira orang itu adalah salah satu asistennya. “Tapi itu nanti saja diurus. Menu buat Putri saja belum selesai. Lebih baik kau kembali pada pekerjaanmu.”

“Tentu,” jawab orang itu. Tapi dia bukan salah satu asisten juru masak, jadi dia tidak melakukan apa yang dirusuh. Dia menuju tempat yang ditunjuk si juru masak tadi. Tanpa ada yang memperdulikan kehadirannya, dia berjalan dengan santai ke pojok ruangan. Di sana ada bahan makanan yang belum diolah tapi sudah dibagi menjadi tiga. Lalu ada catatan kecil yang ditempel pada dinding “Makanan Untuk 3 Buronan.” Orang ini tersenyum, apa yang dicarinya telah dia temukan. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada satu orang pun yang memperhatikan dia. Lalu dia mengeluarkan botol kecil dari kantongnya. Botol kecil itu berisi cairan berwarna biru. Dia meneteskan cairan biru itu pada bahan makanan yang telah disiapkan tadi. Setelah itu dia melenggang keluar dengan santai tanpa ada satu pun orang yang curiga.

*****************************************************************

Begitu makan malam selesai, para Lockerz langsung menuju ruang tahanan bawah tanah. Zeck memimpin di depan dan berjalan dengan cepat, dia tidak sabar untuk segera mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari para tahanannya. Setelah prajurit yang berjaga di depan ruang tahanan membukakan pintu, Zeck langsung berhambur masuk. Tapi kemudian Zeck mengerutkan dahinya karena heran. Ketiga orang itu tertidur, atau terlihat seperti orang tidur.

“Kalian!” bentak Zeck. “Bagaimana bisa kalian tidur di saat seperti ini?!”

Tidak ada jawaban. Ketiga orang itu masih diam. Zeck mendekat dan memperhatikan tubuh mereka dengan seksama. Kening Zeck semakin berkerut saat melihat tidak ada gerakan nafas dari tubuh ketiga orang itu. Untuk memastikan Zeck mendekat dan memeriksa nadi mereka satu per satu. Air muka Zeck berubah, matanya yang kecil melotot sangat lebar. Dia menoleh cepat pada tiga piring yang sudah kosong di meja. Zeck memungut salah satunya dan mengendus.

“Nadz!” panggil Zeck.

“Ya?” dengan segera Nadz muncul di ambang pintu.

“Apa Ulrica bisa mendeteksi racun?”

“Tentu,” jawab Nadz dengan ekspresi sedikit bingung. Lalu ia membawa Ulrica masuk. Nadz menyodorkan salah satu piring ke ujung hidung Ulrica. Serigala betina putih itu mengendusnya sebentar lalu menggonggong dua kali sambil melangkah mundur. Gerakannya seperti menolak sesuatu yang akan diberikan padanya.

“Ada sisa racun dalam piring ini,” kata Nadz.

“Keparat!!” Zeck mengangkat meja dan membantingnya. Tiga piring dan gelas yang berada di atasnya pecah berantakan. Sedangkan mejanya terjatuh dalam posisi terbalik setelah menghantam tembok. Tindakan Zeck itu membuat Nadz terlonjak kaget.

“Pengkhianat sialan ini ingin mempermainkan kita!” teriak Zeck dengan penuh amarah. “Penjaga!”

Dua penjaga ruang tahanan masuk.

“Kalian pasti tahu siapa yang mengantarkan makanan ke sini kan?!” tanya Zeck masih dengan nada tinggi.

“Ya, kami tahu,” jawab kedua penjaga itu bersamaan.

“Aku ingin kalian panggil dia ke sini sekarang juga!”

“Baik,” kedua penjaga itu segera keluar dan pergi untuk memanggil orang yang tadi bertugas membawa makanan untuk ketiga tahanan.

“Ada apa?” Key masuk disusul Mizzu dan Raffie.

“Tahanan kita mati,” Nadz yang menjawab. “Diracun. Sekarang kita menunggu orang yang tadi bertugas mengantar makanan untuk mencari keterangan.”

Setelah menunggu hampir sepuluh menit, dan Zeck mulai kehilangan kesabaran, dua penjaga kembali dengan seorang perempuan. Perempuan ini bertubuh kecil dan pendek, rambutnya diikat, dan wajahnya tampak kelelahan.

“Kau yang mengantarkan makanan untuk tahanan ini?!” bentak Zeck.

“Iya,” perempuan itu mengangguk. Tampangnya ketakutan dan badannya mulai gemetaran.

“Kau juga yang memasukkan racun ke dalam makanan mereka?!” Zeck mendekatkan wajahnya dan menatap si perempuan itu tajam.

“Tidak,” jawab perempuan itu dengan suara bergetar.

“Jangan bohong!” Zeck meraih lengan perempuan itu dan mencengkeramnya erat.

“Saya tidak bohong,” kata si perempuan yang hampir menangis itu. Matanya sudah berkaca-kaca. “Saya berani bersumpah. Saya hanya mengantarkan makanan itu saja. Saya tidak melakukan hal yang lain.”

Zeck masih menatap tajam mata si perempuan. Mencoba mencari kebenaran dari sinar mata perempuan itu. Sinar mata itu tampak benar-benar ketakutan dan jujur. Akhirnya Zeck melepaskan cengkeramannya, dan mulai bicara sedikit pelan.

“Apa kau tahu siapa yang memasak makanan untuk mereka?”

“Saya tahu.”

“Bisa antarkan aku padanya?”

“Bisa.”

“Bagus. Nadz dan Key, kalian ikut aku. Mizzu, Raffie, dan Joy, kalian laporkan ini pada Putri dan Jenderal Guarrdo. Yang lainnya tetap di sini.”

Mizzu, Raffie, dan Joy segera melaksanakan tugas mereka. Sementara Zeck, Nadz, dan Key mengikuti si perempuan pengantar makanan menuju kamar juru masak yang bertugas memasak makanan untuk para tahanan.

“Karel!” Zeck menggedor-gedor pintu kamar si juru masak. Tidak lama kemudian si pemilik kamar membuka pintu. Pintu belum terbuka sepenuhnya, Zeck yang masih dikuasai rasa amarah langsung memaksa masuk dan mendorong Karel ke dalam.

“Kau yang meracuni tiga tahananku?!” Zeck menarik kerah baju Karel.

“Apa yang kau bicarakan?” Karel balik bertanya.

“Tiga tahananku mati keracunan!” bentak Zeck. “Ada sisa racun di piring mereka. Kau yang memasak makanan untuk mereka, kan?!”

“Memang benar aku yang memasak,” jawab Karel,  si pria juruk masak. “Tapi aku tidak tahu apa-apa tentang racun. Sungguh. Lagipula apa keuntungan buatku meracuni tahananmu?”

Zeck memberikan tatapan tajam menusuk pada Karel, sama seperti yang dia lakukan pada si perempuan pengantar makanan tadi. Kali ini pun Karel berkata jujur. Zeck melepaskan dia.

“Lalu bagaimana racun bisa berada dalam makanan mereka?” tanya Zeck.

“Aku sama sekali tidak tahu,” jawab Karel.

“Apa kau tidak melihat ada orang yang mencurigakan ketika, atau sebelum kau memasak makanan itu?” tanya Nadz.

“Entahlah,” Karel mengangkat kedua bahunya. “Di saat-saat sibuk seperti itu kami hanya fokus pada pekerjaan. Kami tidak memperhatikan hal lain.”

“Bagaimana dengan salah satu asistenmu?” sekarang giliran Key yang bertanya.

“Sepanjang pengawasanku tidak ada yang mencurigakan. Kecuali…” Karel berhenti karena teringat sesuatu.

“Kecuali apa?” desak Zeck.

“Ada yang bertanya di mana bahan makanan untuk para tahanan yang baru datang.”

“Apakah dia salah satu asistenmu?”

“Mungkin,” jawab Karel ragu.

“Mungkin?”

“Aku terlalu sibuk jadi aku tidak melihat wajahnya,” jawab Karel. “Semua orang sibuk. Aku yakin tidak ada yang memperhatikannya. Lagipula tidak ada laporan yang aneh-aneh dari para asistenku.”

Zeck menghela nafas putus asa. Kini semua petunjuk kembali dari nol.

Di sisi lain, Mizzu, Raffie, dan Joy telah melaporkan apa yang terjadi pada Jenderal Guarrdo dan Kolonel Tara. Kemudian Zeck, Key, dan Nadz pun menghadap untuk melaporkan apa yang mereka dapatkan. Selanjutnya para Lockerz bersama dengan Guarrdo, Tara, dan beberapa pejabat istana lainnya berkumpul untuk membicarakan mengenai kemungkinan adanya penyusup atau pengkhianat di istana. Sebagai hasil, malam itu juga seluruh istana digeledah. Setiap pelayan, penjaga, prajurit, dan pekerja di istana itu semuanya di periksa satu per satu. Pasukan Lockerz terjun langsung untuk membantu penggeledahan masal itu. Karena begitu banyaknya penghuni istana, proses penggeledahan berlangsung sangat lama dan baru selesai ketika fajar hampir menyingsing. Dan setelah semua kerja keras semalaman tanpa tidur itu, mereka tidak mendapatkan hasil apa-apa. Semua orang terbukti bersih dari segala macam kecurigaan. Bukti-bukti bekas racun pun tidak ditemukan. Para Lockerz kelelahan dan mereka tidur sampai matahari berada tepat di atas kepala.

*****************************************************************

Suara gelak tawa memenuhi udara di ruang kerja Tara. Hanya tiga orang yang berada di ruangan itu, tapi suara tawa yang terdengar lebih dari tiga orang.

“Kalian lihat wajah Zeck ketika akhirnya mereka tidak menemukan apa-apa sabagai bukti adanya pengkhianatan?” tanya Tara dengan nada ceria. “Aku benar-benar puas mempermainkan mereka,” suara tawa Tara terdengar paling keras.

“Anda benar-benar jenius, Kolonel,” puji Letnan Juven. “Dan Kapten Ruci menjalankan tugasnya dengan baik,” Juven menoleh pada kawannya yang duduk di sebelah.

“Juru masak itu saja yang ceroboh,” ucap Kapten Ruci. Ketiga orang itu kembali tertawa. Setelah beberapa menit dan merasa puas, mereka berhenti. Dimulai dari Tara yang raut wajahnya tiba-tiba menjadi serius.

“Sekarang kita masukkan Guarrdo dalam permainan,” kata Tara. “Aku akan menjatuhkan nama baiknya sampai ke dasar jurang. Semua kepercayaan terhadap dirinya akan hilang dan semua mata akan mulai memandang padaku.”

“Sepertinya Anda telah merencanakan semuanya dengan matang,” kata Juven.

“Tentu saja,” sahut Tara. “Aku adalah orang yang sangat berhati-hati dan penuh perhitungan. Aku merancang rencanaku dengan matang dan melaksanakannya dengan sempurna.”

“Apa ada sesuatu yang bisa kami bantu untuk mewujudkan rencana itu?” tanya Juven.

“Tidak,” jawab Tara. “Tugas kalian masih sama, mencari latar belakang enam Lockerz baru itu. Sementara untuk menjatuhkan Guarrdo, aku bisa melakukannya sendiri. Ah tapi mungkin kalian bisa membantuku sedikit”

“Apa saja, Kolonel.”

“Aku ingin kalian siagakan pasukan yang telah ku latih khusus itu malam ini juga,” kata Tara. “Aku punya tugas untuk mereka. Sekaligus aku ingin melihat hasil latihan mereka selama ini.”

“Maksud Anda pasukan ninja?” Juven meyakinkan.

“Ya,” Tara mengangguk. “Pasukan ninja, untuk pertama kalinya muncul di Terram. Tidak akan ada yang pernah menduga hal ini. Aku memang jenius,” Tara tersenyum memuji dirinya sendiri.

****************************************************************

Kai keluar dari kamarnya dan merentangkan kedua tangannya ke samping sambil menguap. Kamar Kai berada di luar dan menghadap ke taman. Kai melangkah ke depan dan menyipitkan matanya karena matahari siang yang menyilaukan. Tapi ia juga menikmati sinar matahari yang terasa hangat di kulitnya itu. Kemudian terdengar sesuatu dari perutnya. Suara lapar.

“Aku lapar sekali,” Kai memegangi perutnya. “Mudah-mudahan aku belum melewatkan waktu makan siang,” kata Kai sambil berbalik dan berjalan memasuki istana. Dia berpapasan dengan Nadz yang kebetulan juga baru saja keluar dari kamarnya bersama Ulrica.

“Halo, cantik,” sapa Kai. “Rupanya bukan aku saja yang baru bangun.”

Nadz tidak menggubris Kai, ia berjalan menyusuri lorong menuju ruang makan.

“Apa kau selalu tidur bersama serigalamu?” tanya Kai yang berusaha berjalan sejajar dengan Nadz.

“Kalau iya kenapa?” kata Nadz ketus.

“Tidak apa-apa sih,” sahut Kai. “Kamu itu galak sekali ya? Susah lho cari pacar kalau kamu galak.”

“Bukan urusanmu,” hardik Nadz, lebih ketus dari sebelumnya. Lalu ia berjalan lebih cepat dan meninggalkan Kai di belakang.

Sampai di ruang makan, Lockerz yang lain telah berkumpul mengelilingi meja. Berbeda dari biasanya, siang itu mereka akan makan siang bersama Putri dan beberapa pejabat istana. Hal itu sengaja dilakukan karena mereka ingin sekalian membahas mengenai penggeledahan semalam dan langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk ke depan. Alhasil, acara makan siang itu berlangsung hingga dua jam. Dan seperti biasanya, Putri tampak sangat bosan dan tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dibicarakan. Tapi ia menggunakan kesempatan itu untuk mencuri-curi pandang dengan salah satu anggota Lockerz yang ia suka. Bibirnya tersenyum tipis ketika anggota Lockerz itu balas memandangnya. Setelah dua jam yang melelahkan, akhirnya rapat itu selesai dan Putri Nyssa sama sekali tidak tahu apa hasil dari rapat itu, yang ia tahu adalah penderitaannya telah berakhir. Putri Nyssa berdiri dan menerima hormat dari para pejabat istana dan pasukan khusus Lokcerz.

Begitu Putri Nyssa beranjak pergi dari ruang makan bersama dua orang pengawalnya, Kai segera berlari kecil menyusulnya.

“Putri,” panggil Kai.

Putri Nyssa berhenti dan menoleh.

“Maaf jika hamba lancang,” ucap Kai sopan. “Apa Yang Mulia ada waktu? Hamba hanya ingin berbincang-bincang dan mengenal Yang Mulia lebih dekat.”

Putri Nyssa tersenyum malu. Dia mendekati Kai dengan wajah tertunduk. Setelah jarak keduanya sangat dekat, Putri Nyssa yang lebih pendek dari Kai berjinjit dan mendekatkan mulutnya ke telinga Kai.

“Datanglah ke kamarku setelah jam 9 malam nanti,” bisiknya.

“Pasti,” Kai balas berbisik sambil mengangguk pelan. Setelah itu Putri Nyssa kembali pada pengawalnya dan pergi.

“Hore!” Kai membuang tinju ke udara dengan girang. “Malam ini aku tidak akan sendirian.”

****************************************************************

Setelah semua kerja keras tanpa hasil hari sebelumnya di tambah dengan penggeledahan yang melelahkan, Zeck memutuskan untuk mengistirahatkan teman-temannya. Jadi hari itu para Lockerz sama sekali tidak ada kerjaan. Kecuali tetap waspada terhadap keselamatan Putri, tidak ada hal lain yang mereka kerjakan hingga akhirnya malam tiba.

Sudah 30 menit Zeck berbaring di atas tempat tidurnya, tapi matanya belum juga bisa terpejam. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan dan masalah tentang si pengkhianat yang sangat lihai ini. Matanya menerawang ke langit-langit. Zeck menghela nafas panjang dan pikirannya teralihkan untuk sesaat. Dia merindukan istrinya, Phika. Wajah muram Zeck menjadi senyum ketika dia mengingat wajah istrinya yang cantik dan tingkah lakunya yang selalu menyebalkan, namun Zeck sangat mencintainya. Entah kapan Zeck bisa menemui Phika lagi. Tapi kemudian masalah pengkhianat kembali singgah dipikirannya. Akhirnya Zeck memutuskan untuk mencari segelas anggur yang bisa menenangkannya. Ia keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur istana untuk mencari anggur yang ada. Ia mengambil sebuah gelas kosong dan mengisinya penuh dengan anggur putih. Lalu ia membawanya ke kamar. Dalam perjalanannya kembali ke kamar, dia melihat seseorang sedang berdiri di pinggir kolam di halaman istana bagian samping. Orang itu berdiri tepat di bawah lentera. Zeck penasaran dan mendatanginya.

“Kau belum tidur?” tanya Zeck.

Mizzu terkejut dan menoleh cepat. “Belum,” Mizzu menggeleng.

“Tidak bisa tidur?”

“Begitulah.”

“Kau mau?” Zeck menawarkan anggur putihnya.

“Tidak, terima kasih,” tolak Mizzu sopan. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah kolam dengan tatapan mata menerawang.

“Aku tahu kenapa kau tidak bisa tidur,” kata Zeck setelah meneguk sedikit anggur putihnya. “Kau pasti teringat padanya dan merindukannya. Iya kan?”

“Siapa?” Mizzu menoleh pada Zeck.

” Suamimu mungkin,” jawab Zeck.

“Aku tidak pernah bilang kalau aku sudah menikah,” kata Mizzu.

“Cincin di jarimu itu yang bilang,” Zeck menunjuk cincin yang melingkar di jari manis Mizzu dengan gerakan kepalanya.

“Aku juga mengenakannya,” Zeck mengangkat tangan kanannya dan memamerkan cincin emas yang melingkar di jari manisnya.

“Iya,” Mizzu kembali tertunduk. “Aku memang sedang memikirkannya. Dia selalu ada di sisiku dan menghilangkan semua kelelahan dalam diriku. Aku belum terbiasa tidur sendirian tanpa dia.”

“Kau mau aku menemanimu tidur?”

“Hah?” Mizzu menoleh cepat pada Zeck dan melihat cengiran jahil di wajah pemimpin Lockerz itu.

“Kau bukan tipeku,” balas Mizzu.

Zeck tertawa mendengarnya.

“Bagaimana dengan istrimu?” tanya Mizzu.

“Dia adalah perempuan tercantik yang pernah ada di Terram. Dia…” Zeck tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam istana.

“Putri!” serentak Zeck dan Mizzu berlari ke dalam istana.

****************************************************************

Waktu menunjukkan pukul 9 lebih 5 menit saat Kai berjalan menyusuri salah satu lorong di dalam istana. Dia menaiki tangga menuju lantai atas. Dengan langkah ringan dan wajah yang berseri dia menuju kamar tidur Putri. Tapi dua pengawal sedang bersiaga penuh di depan kamar Putri. Kai menyapa mereka dengan ramah.

“Tahukan kalian tadi siang Putri Nyssa menyuruhku untuk berjaga di sini?” tanya Kai kemudian.

“Kami tidak tahu,” kata dua penjaga itu bersamaan.

“Yah dia bilang begitu,” Kai berusaha meyakinkan. “Jadi menurutku khusus malam ini kalian boleh istirahat.”

“Kami tidak akan pergi tanpa seizin Putri,” kata salah seorang penjaga.

“Aku yang akan menjaganya di sini, kalian tidak perlu khawatir. Apa kalian tidak percaya padaku? Aku yakin kalian pasti lelah dan bosan harus berjaga terus setiap malam. Sekali-sekali istirahatlah, aku yakin Putri Nyssa tidak keberatan. Nanti aku yang mengatakan padanya. Aku yang akan bertanggung jawab.”

Akhirnya setelah dibujuk berkali-kali kedua penjaga itu pun mau mengikuti perkataan Kai. Lalu Kai berdiri di depan pintu dengan posisi yang waspada, sampai kedua penjaga tadi benar-benar hilang dari pandangannya, Kai mengetuk pintu.

“Siapa?” tanya suara dari dalam.

“Ini Kai,” jawab Kai.

“Masuklah.”

Kai masuk dengan perlahan dan hati-hati. Seperti maling yang tidak ingin diketahui kehadirannya. Kamar tidur Putri sangat besar dan luas, dan juga harum. Lantainya berlapis karpet yang sangat lembut, hingga Kai merasa sedang berdiri di atas rumput. Kai melangkah ke tengah ruangan sambil mencari di mana Putri berada?

“Kau tepat waktu juga,” suara itu berasal dari tempat tidur.

Kai menoleh ke arah tempat tidur yang besar dan tertutup oleh kelambu tipis. Kai bisa melihat sosok Putri sedang duduk bersandar di atas tempat tidur.

“Kemarilah,” kata Putri. “Bukankah kau ingin mengenalku lebih dekat?”

“Iya,” Kai berjalan menuju tempat tidur. Dia melepaskan pedangnya dan meletakkannya di samping tempat tidur. Lalu dengan perlahan dia menyibak kelambu yang menutupi. Putri Nyssa tersenyum memandangnya dan Kai takjub dibuatnya. Rambut Putri Nyssa yang selalu digulung kini tergerai indah berombak. Putri Nyssa mengenakan pakaian tidur berwarna merah muda yang terbuat dari sutra dan sangat lembut.

“Apa tidak apa-apa kalau aku…” Kai tampak ragu.

“Tidak apa-apa,” kata Putri. “Duduklah di sampingku,” Putri menepuk kasur di sampingnya.

“Baiklah, Putri,” Kai naik ke tempat tidur dan duduk di samping Putri.

“Panggil namaku saja,” kata Putri setelah Kai duduk di sampingnya. “Nyssa.”

Selanjutnya mereka berdua terlibat dalam satu obrolan ringan. Mereka saling mengenal satu sama lain, saling bercerita tentang diri masing-masing. Terkadang diselingi dengan canda dan tawa. Nyssa merasa sangat nyaman dengan Kai, tanpa segan dia memeluk lengan Kai dan bersandar di bahunya.

Tanpa terasa satu jam sudah mereka tenggelam dalam obrolan. Dan entah kenapa tiba-tiba susana menjadi lebih intim. Semua berlalu begitu cepat. Tapi berawal pada satu momen yang tepat. Di tengah canda tanpa sengaja Kai menoleh ke kiri dan wajahnya bertemu dengan wajah Nyssa. Jarak keduanya begitu dekat. Entah siapa yang memulai duluan tapi pada detik berikutnya bibir mereka sudah saling bertemu. Keduanya pun hanyut ke dalam perasaan yang mulai membara. Tapi belum lama kemesraan itu berlangsung, tiba-tiba Kai berhenti. Wajahnya serius dan waspada.

“Ada apa?” tanya Nyssa.

“Sssttt,” bisik Kai. Dia memungut pedangnya dan beranjak dari tempat tidur. Dia menghunuskan pedang dan memegangnya dengan kedua tangan. Dengan langkah yang sangat waspada dia membuka salah satu pintu yang menuju balkon. Ada tiga pintu menuju balkon di kamar itu. Kai membuka salah satunya dan melangkah keluar dengan penuh hati-hati. Tidak ada siapa-siapa, tapi Kai yakin tadi sempat mendengar sesuatu yang mencurigakan. Kai bisa merasakan kehadiran seseorang di dekat situ. Akhirnya Kai masuk lagi dan mencoba pintu kedua. Aneh, pikirnya. Perasaannya semakin tidak enak, tapi dia tidak melihat apa-apa. Lalu tiba-tiba ia menyadari sesuatu, ia mendongak tapi sudah terlambat. Seseorang berpakaian serba hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki melompat ke arahnya. Kai terjatuh dan pedang terlepas dari tangannya. Sosok serba hitam itu langsung menghajar Kai bertubi-tubi tanpa memberinya kesempatan untuk melindungi diri. Kemudian sosok hitam itu masuk ke kamar tidur Putri, dilanjutkan dengan suara teriakan Putri. Sekuat tenaga Kai berdiri dan memungut pedangnya. Dia lari ke dalam tapi lagi-lagi dia terlambat. Sosok-sosok hitam lainnya telah berada disana. Satu diantaranya menangkap Putri dan mengarahkan mata pisau ke leher Putri. Lalu datang satu lagi yang kini berdiri di belakang Kai.

“Lepaskan dia,” ancam Kai.

“Kau tidak bisa mengancam kami, anak muda,” kata salah seorang sosok hitam itu. “Letakkan pedangmu atau ku bunuh Putri sekarang juga.”

Kai tidak punya pilihan, ia terpaksa menjatuhkan pedangnya dan mengangkat kedua tangannya. Lalu dua sosok-sosok hitam itu melompat keluar sambil membawa Putri. Kai hendak mengejar tapi sosok hitam yang berada di belakangnya berhasil menyobek pundaknya dengan pedangnya yang tajam. Kai berteriak kesakitan dan jatuh berlutut di lantai. Sekejap kemudian sosok-sosok hitam telah lenyap, tepat bersamaan dengan terbukanya pintu kamar tidur Putri.

Beberapa prajurit masuk berhamburan. Mereka semua terkejut mengetahui Putri telah menghilang dan Kai dalam keadaan luka parah. Tidak lama kemudian Zeck dan Mizzu sampai di kamar itu. Mereka segera mendekati Kai yang sekarang duduk di sudut tempat tidur.

“Kai, kau terluka?” kata Zeck.

“Iya,” Kai meringis kesakitan memegangi pundak kanannya. Darah segar mengalir deras dari pundaknya.

“Kau harus segera dibawa ke dokter,” sahut Mizzu.

“Putri diculik,” kata Kai dengan nada terengah karena menahan sakit. “Ada empat orang… dan mereka semua… berpakaian serba hitam… hanya mata saja… yang kelihatan… jadi aku… tidak mengenali… wajah mereka…” setelah menyelesaikan kalimatnya yang terbata, Kai jatuh terbaring dengan mata terpejam.

“Kai!” seru Zeck dan Mizzu bersamaan.

“Dia pingsan,” kata Zeck lega setelah melihat dada Kai masih bergerak naik turun.

“Dia kehabisan banyak darah.” kata Mizzu.

Lalu anggota Lockerz lainnya datang. Zeck segera menceritakan apa yang terjadi.

“Mereka hilang tanpa jejak,” Zeck mengakhiri ceritanya.

“Ulrica bisa melacaknya,” sahut Nadz. Lalu dia membawa Ulrica ke balkon, tempat para sosok-sosok hitam tadi bersembunyi. Nadz memberikan waktu pada serigalanya untuk mengendus setiap sudut balkon. Serigala putih itu bahkan memanjat dinding balkon karena mencium aroma yang lain di dinding bagian atas. Sementara Nadz sendiri menyebarkan pandangannya ke gelapnya malam. Dia berharap melihat sesuatu atau bayangan yang mencurigakan, tapi Nadz tidak menemukan siapa-siapa. Lalu Ulrica mengerang pelan, memberi tahu majikannya kalau dia sudah menyimpan aroma asing itu di dalam ingatannya.

“Ulrica sudah mengenali bau mereka,” kata Nadz sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Saat itu beberapa orang perawat sedang memboyong tubuh Kai dengan tandu. “Kita bisa melakukan pencarian malam ini juga,” kata Nadz lagi.

“Tentu,” Zeck mengangguk. “Mizzu, Raffie, dan White, kalian ikut Nadz mencari Putri. Sekarang juga!”

“Baik!” jawab keempat orang serentak, lalu mereka segera pergi untuk mencari jejak Sang Putri.

******************************************************************

Bersambung

Story by Zenin Octa

Lockerz Warriors (ReWrite) — Bagian 3

“Jadi ini orang-orang yang kalian pilih?” Tara memandangi keenam orang baru itu satu per satu.

“Aku harap kalian bisa menjaga nama baik Putri dan Istana,” ucap Guarrdo tegas. Entah kenapa dia masih belum bisa mempercayakan tugas penting untuk melindungi Putri dan membasmi pemberontak pada orang-orang asing ini.

“Tentu saja,” sahut Zeck. “Jika ada yang berani berkhianat satu orang saja, aku sendiri yang akan menghabisi nyawanya.”

“Hmm…” Tara mengangkat kedua alisnya. Tampak sedikit terkejut dengan perkataan Zeck. “Benar kau akan melakukannya?”

“Kau bisa memegang kata-kataku,” jawab Zeck.

“Bagus,” Tara mengangguk sambil tersenyum kecil. Namun kemudian dia menghilangkan senyumnya ketika sadar ada dua orang sedang menatapnya.

“Baiklah,” Guarrdo mengambil kepemimpinan di ruangan itu. “Ini adalah lima orang yang terlibat dalam pembunuhan Ratu. Dua di antaranya berhasil kami bunuh saat itu juga, tapi yang tiga lagi berhasil melarikan diri. Kami sudah mencari ke tempat mereka biasa tinggal tapi mereka sudah menghilang. Sampai saat ini mereka masih menjadi buronan. Tugas pertama kalian adalah menangkap tiga orang ini hidup-hidup dan korek informasi dari mereka.” Guarrdo membagikan kertas berisi data diri para pembunuh Raja dan Permaisuri kepada 13 orang Lozkerz. “Bagaimana cara kalian melakukannya itu terserah kalian,” lanjut Guarrdo. “Jika butuh bantuan langsung saja bicara padaku.”

“Tentu,” Zeck mengangguk mantap.

“Kalau begitu kami permisi dulu,” Guarrdo berdiri dan Tara mengikutinya. “Selamat bekerja,” kata Guarrdo. Lalu dia dan Tara pergi.

“Kita akan bagi tugas,” kata Zeck. “Aku akan membagi kita menjadi empat kelompok. Aku, Mizzu, dan White akan mencari orang ini.” Zeck mengangkat salah satu kertas di tangannya. “Joy, Kai, dan Nadz kalian cari orang ini,” Zeck mengangkat lagi kertas yang lain. “Lalu Astra, Key, dan Nanya kalian cari orang ini,” Zeck mengangkat kertas terakhir di tangannya. “Kita geledah rumah mereka masing-masing. Cari petunjuk sekecil apa pun. Apa saja yang bisa membawa kita pada mereka. Sementara sisanya, Lenka, Raffie, Rajha, dan Tian, kalian berjaga-jaga di Istana. Fokus pada Putri. Kita bergerak sekarang!”

***************************************************************

Tara duduk bertopang dagu di belakang mejanya. Di depannya berjajar dengan rapi data-data diri enam orang anggota Lockerz yang baru. Tara sama sekali belum pernah mengenal atau pun mendengar tentang keenam orang ini. Dan itu bisa menganggu rencananya yang sudah tersusun rapi. Tidak lama kemudian pintu ruang kerjanya diketuk.

“Masuk,” teriak Tara. Lalu masuklah dua orang pria perwira menengah, yang satu berpangkat Letnan yang satu lagi berpangkat Kapten. Mereka duduk di hadapan Tara, sementara Tara menyusun kertas-kertas yang sedari tadi dipandangi.

“Ada tugas untuk kami, Kolonel?” tanya si Kapten.

“Aku ingin kalian cari tahu latar belakang keenam orang ini,” Tara menyerahkan susunan kertas itu pada si Kapten.

“Lengkap, detail, dan terperinci. Tanpa kurang sedikit apa pun.”

“Seperti tujuh orang sebelumnya?” tanya si Letnan.

“Ya,” jawab Tara. “Persis seperti itu. Aku ingin tahu kelemahan mereka.”

“Akan segera kami laksanakan, Kolonel,” ucap si Kapten. Lalu dia dan temannya mohon diri.

***************************************************************

Qiru adalah nama orang yang kini diburu oleh Zeck, Mizzu, dan White. Mereka bertiga mendatangi rumah Qiru yang sepertinya tidak berpenghuni. Dengan mudah White membuka pintu rumah yang terkunci rapat itu dengan kumpulan pisau kecil yang dia simpan di salah satu kantong celananya. Mereka bertiga masuk dan menggeledah seluruh isi rumah.

“Orang ini rapi sekali,” komentar Mizzu.

Rumah Qiru memang sangat rapi. Tidak ada satu pun barang yang tercecer. Mizzu menaiki tangga dan memeriksa lantai atas. Sementara White memeriksa bagian belakang, dan Zeck memeriksa ruang depan dan ruang tengah. Zeck memperhatikan setiap barang yang ada di sana, tapi tidak ada yang mencurigakan. Kecuali sebuah arca malaikat kecil di atas perapian. Entah kenapa ada yang menarik dari arca kecil itu. Zeck baru saja meletakkan tangannya pada arca itu, White berteriak memanggilnya. Zeck bergegas mendatangi White yang sedang berada di dapur.

“Ada apa?” tanya Zeck.

“Aku menemukan ini di lemari makanan,” White menunjukkan sebuah piring berisi satu iris kue. “Makanan ini belum terlalu lama, coba saja.” White menyerahkan piring itu. Zeck mengambilnya dan mengendus sepotong kue itu.

“Aromanya masih harum,” Zeck mengambil secuil dan mencicipinya. “Masih enak. Kue ini baru dua hari. Itu berarti ada yang datang ke sini membuat atau membawa kue ini dan memakannya di sini.”

“Ya, tapi pintu terkunci. Mungkinkah ada penghuni lain?” tanya White. “Atau sudah ada orang lain yang tinggal di sini?”

“Tidak,” Zeck menggeleng dan meletakkan piring berisi kue di meja. “Di ruang tengah masih ada foto-foto Qiru, kalau ada penghuni baru mereka pasti sudah menyingkirkan foto-foto itu.”

“Apa Qiru punya kerabat?” tanya White lagi.

“Entahlah,” Zeck mengangkat bahunya. “Rumah ini terlalu rapi dan bersih untuk ukuran rumah kosong. Kalau benar rumah ini ada penghuninya, siapa pun dia, jangan sampai mendapati kita berada di dalam. Bisa panjang nanti urusannya. Lebih baik kita menunggu di luar saja.”

Zeck memanggil Mizzu yang masih berada di lantai atas lalu mereka bertiga keluar dan White mengunci pintu seperti semula. Mereka bertiga duduk di teras rumah itu untuk hampir 30 menit ke depan. Lalu seorang perempuan muda lewat dan menegur mereka.

“Sedang apa kalian di rumah hantu itu?” tanyanya dari jalan.

Zeck, Mizzu, dan White saling melempar pandang. Mereka tidak mengerti dengan maksud si perempuan muda.

“Kenapa kau bilang ini rumah hantu?” tanya Zeck.

“Karena memang ada hantunya di rumah itu,” jawab si perempuan muda. “Hampir setiap malam ada api yang melayang-layang di dalam rumah itu. Berjalan dari satu ruang ke ruangan yang lain. Sungguh mengerikan. Aku sarankan kalian cepat pergi dari sana sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”

“Apa kau kenal penghuni rumah ini?” tanya Zeck lagi.

“Rumah itu sudah tiga bulan tidak ada penghuninya,” kata si perempuan. “Tidak ada yang tahu ke mana penghuninya pergi. Mungkin dia sudah di mangsa oleh hantu. Dan sebaiknya aku juga harus segera pergi dari sini.” Perempuan itu pun langsung pergi dengan langkah tergesa-gesa.

“Hantu ya?” kata Mizzu. “Aku baru tahu ada hantu di Terram.”

“Api terbang itu pastilah lilin atau lentera yang dipakai oleh seseorang di malam hari di dalam rumah,” kata White. ”Karena jika menyalakan lampu, orang akan curiga kalau rumah ini ternyata masih ada penghuninya.”

“Kalau begitu kita…” perkataan Zeck berhenti karena dia mendengar sesuatu dari dalam rumah. “Kalian dengar itu?”

“Apa?” tanya Mizzu dan White bersamaan. Awalnya mereka tidak mendengar apa pun, tapi kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.

“Ku rasa hantunya sudah datang,” kata Mizzu.

“Kita coba saja. Buka kuncinya, White,” perintah Zeck. White melakukannya, lalu mereka bertiga bersiaga dengan pedang yang sudah terhunus, siap untuk menebas apa pun yang ada di dalam. Zeck memimpin dan memegang gagang pintu. Dengan perlahan dia membukanya.

***************************************************************

Nadz, Kai, dan Joy berdiri berjajar di depan sebuah rumah besar dan cukup mewah.

“Rumahnya bagus,” kata Joy. “Namanya juga bagus. Tapi kelakuannya tidak sebagus nama dan rumahnya. Dia sudah memiliki harta seperti ini, apalagi yang dia cari sampai membunuh Raja dan Permaisuri?”

“Sepertinya orang bernama Vivian ini bukan tipe orang yang gampang terpuaskan,” kata Nadz. “Selalu merasa kurang,” Joy menambahkan.

“Itu karena dia belum bertemu denganku,” celetuk Kai.

“Maksudmu?” tanya Nadz dan Joy bersamaan sambil menoleh pada Kai.

“Aku akan membuatnya…”

“Stop!” potong Nadz. “Aku tidak ingin mendengarnya. Membuatku ingin muntah. Lebih baik sekarang kita masuk saja.”

“Pintunya terkunci,” kata Joy setelah mereka sampai di depan pintu.

“Dobrak saja,” kata Nadz. Dia mengayunkan pedangnya yang besar ke arah pintu dan menciptakan lubang yang besar pula.

“Kau memang tipe yang tidak sabaran,” gumam Kai.

“Bagaimana kalau rumah ini ada orangnya?” protes Joy.

“Rumah ini kosong, bodoh,” sahut Nadz. Tapi kemudian dia berubah pikiran ketika serigalanya, Ulrica bertingkah aneh, seperti mengendus sesuatu. “Sepertinya tidak juga.”

Nadz mengikuti Ulrica menuju ruang tengah, Kai dan Joy juga mengikuti di belakang. Ulrica berhenti di depan perapian dan menggoyangkan ekornya lalu menyalak sekali.

“Apa yang kau temukan, sayang?” Nadz berjongkok di samping Ulrica sambil mengusap kepala serigala putihnya itu. “Ow, apa ini?” Nadz menemukan jejak kaki di depan perapian, di atas lantai yang berdebu.

“Seseorang menghilang ke dalam perapian,” sahut Joy.

“Hei, malaikat kecil ini lucu sekali,” kata Kai. Dia selalu senang jika menemukan hal-hal yang unik. Tanpa pikir panjang Kai menyentuhnya. “Kenapa keras sekali?” Kai berusaha mengambilnya, tapi sepertinya arca malaikat kecil itu menempel erat pada bagian atas perapian. Kai berusaha lagi, tapi yang terjadi membuat ketiga orang itu terkejut. Awalnya terdengar bunyi derakan, lalu perapian itu bergoyang. Mereka bertiga mundur. Perapian itu mulai bergerak ke samping. Terus bergerak dan membuka sebuah jalan gelap di belakangnya.

“Aha!” seru Nadz girang. “Jalan rahasia. Aku suka ini.”

Ulirca di depan, lalu Nadz, Joy, dan Kai paling belakang. Sebelum masuk Nadz mengambil sebuah lentera kecil yang juga terletak di atas perapian sebagai penerang mereka. Lorong bawah tanah itu berkelak-kelok. Mungkin sudah hampir 20 menit mereka menyusuri lorong itu dan belum ada tanda-tanda jalan keluar. Lalu mereka dihadapkan pada sebuah pertigaan.

“Kita ambil jalan yang mana?” tanya Nadz, lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Serigalanya berbelok ke kanan, tapi Nadz menahannya. “Tunggu Ulrica. Aku punya firasat lain. Kita lurus dulu.”

Ulrica mengerang pelan sebagai bentuk protesnya tapi akhirnnya dia menurut saat Nadz sudah lebih dulu berjalan lurus. Tidak lama kemudian mereka menemukan tangga. Mereka menaiki tangga itu dan sampai di ujung lorong.

“Kita sudah sampai,” kata Joy.

“Lalu bagaimana cara keluarnya?” tanya Kai.

Nadz tidak menjawab. Dia meraba seluruh permukaan dinding yang ada di hadapannya dan menemukan sebuah tuas. Ia menariknya, lalu dinding itu terbuka. Satu per satu mereka melangkah keluar. Lorong bawah tanah itu membawa mereka pada sebuah ruang tengah yang lain. Mereka juga muncul dari perapian yang bergeser, lengkap dengan arca malaikat kecil di atasnya.

“Hmm, rumah siapa ini kira-kira?” tanya Nadz.

“Yang ini lebih rapi dan bersih,” kata Joy. “Ayo kita ke ruang lain dan cari tahu.”

Mereka bertiga bersama Ulrica keluar dari ruang tengah. Saat itulah mereka mendengar suara dari depan pintu. Suara dari luar.

“Ada orang di luar,” Nadz menyiapkan pedangnya di depan. Kai dan Joy juga bersiaga. Mereka mendekat pada pintu. Nadz berjalan paling depan. Lalu pintu itu perlahan terbuka. Nadz dan yang lainnya berhenti dan menahan nafas. Terlihat ujung pedang dari balik pintu. Nadz, Kai, dan Joy semakin siaga. Lalu pintu terbuka lebar.

“Kalian?” Zeck terkejut melihat teman-temannya sendiri berada di dalam rumah Qiru. “Kenapa bisa sampai di sini?”

“Kami lewat jalan rahasia di balik perapian,” jawab Nadz sambil menurunkan pedangnya. Ketegangan telah hilang dan setiap orang menyimpan senjata masing-masing. Lalu mereka berkumpul di ruang tengah.

“Sudah ku duga malaikat kecil itu ada sesuatunya,” kata Zeck.

“Tadi kami menemukan pertigaan,” cerita Nadz. “Mungkin pertigaan itu akan membawa kita ke tampat yang lain lagi.”

“Kalau begitu ayo kita telusuri lorong rahasia ini,” ajak Zeck.

Dan mereka pun masuk ke dalam lorong dengan dipimpin oleh Ulrica dan Nadz di depan.

***************************************************************

CEKLEK

“Ow ow…” Key membuka pintu rumah yang ternyata tidak terkunci dan wajahnya berubah cemas. “Ini tidak bagus.”

“Apanya yang tidak bagus?” tanya Astra.

“Pintunya tidak terkunci,” jawab Key.

“Namanya juga rumah kosong,” Nanya menyenggol tubuh Key dan berhambur masuk ke dalam rumah.

“Justru rumah kosong itu biasanya pintunya selalu terkunci,” debat Key.

“Ini jelas tidak seperti rumah kosong,” kata Astra yang sudah berkeliling sampai ke ruang tengah.

“Tapi Jenderal Guarrdo bilang kalau Phalos dan dua orang lainnya sudah tidak ada lagi di tempat mereka biasa tinggal,” sahut Nanya. “Itu berarti mereka sudah tidak tinggal lagi di rumah mereka, kan? Jadi rumah ini seharusnya kosong. Tapi ini…”

DUK DUK

“Ssttt….” Key menempelkan jari telunjukknya ke bibir. “Kalian dengar suara barusan?”

“Seperti suara langkah kaki,” jawab Nanya.

“Di bawah lantai,” lanjut Astra.

Key duduk lalu bersujud. Dia menempelkan telinganya ke lantai, berusaha keras mencari sumber suara. Samar-samar dia bisa mendengar suara yang lain. Suara orang.

“Geledah seluruh ruangan,” kata Key sambil berdiri. “Pasti ada semacam pintu rahasia.”

Dan mereka bertiga pun mulai mencari. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan sesuatu yang mencurigakan di rumah itu.

“Hei,” teriak Nanya. Key dan Astra segera datang menghampirinya.”Lihatlah lemari aneh ini.”

Nanya sedang memegangi pintu lemari yang ia buka. Tapi lemari itu kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada gantungan atau rak-rak yang selayaknya ada dalam sebuah lemari. Lemari itu lebih mirip ruang sempit dan kecil. Tanpa rasa curiga ketiga orang itu melangkah masuk dan…

Tiba-tiba dasar lemari itu terbuka dan mereka terjatuh. Spontan mereka mengumpat bersamaan karena terkejut. Tapi mereka langsung terdiam ketika sadar mereka tidak sendirian, dan tiga pedang telah terhunus dihadapan muka mereka.

“Kalian?” kata Key, Astra, dan Nanya hampir bersamaan.

“Perangkap kita berhasil,” kata Qiru.

“Sudah ku bilang ideku cemerlang,” ucap Vivian dengan nada bangga.

“Tapi masalah kita belum selesai,” kata Phalos. “Masih ada yang lain.”

“Mereka tidak mungkin menemukan lorong rahasia,” kata Vivian.

“Belum tentu,” sahut Phalos. “Kita tetap harus berjaga-jaga. Ikat mereka.”

Vivian melucuti senjata Key, Nanya, dan Astra. Sementara Qiru mengikat tangan dan kaki mereka. Lalu mereka bertiga ditinggalkan begitu saja.

“Mereka sudah merencakan ini,” kata Key setelah tiga orang yang menyandera mereka pergi.

“Itu berarti mereka sudah tahu kita akan datang,” Astra menambahkan.

“Tapi kita baru menerima tugas untuk menangkap mereka hari ini,” sela Nanya. “Dari mana mereka bisa tahu? Apa mereka itu peramal?”

“Ya ampun,” keluh Key. “Ternyata pikiranmu tidak secepat gerakanmu. Perintah itu memang baru turun hari ini, tapi sudah direncanakan sejak lama. Itu berarti ada orang yang membocorkan…” kata-kata Key terhenti. “Tunggu dulu,” lanjutnya. “Ada orang dalam yang bekerja sama dengan pemberontak?”

“Dan dia berada di lingkungan istana,” tambah Astra.

“Tapi kenapa selama ini dia diam saja?”

“Maksudnya?” tanya Astra.

“Jika memang dia berada di dalam istana,” Key menjelaskan. “Dia punya kesempatan banyak untuk membunuh Putri dan merebut tahta. Tapi kenapa dia tidak melakukan apa-apa? Dan malah membocorkan perintah yang diberikan pada kita. Bukankah itu aneh?”

“Iya juga,” gumam Astra.

“Aku tidak mengerti yang kalian bicarakan,” komentar Nanya. “Intinya sekarang, bagaimana caranya kita bebas dari sini. Setelah itu baru bicarakan masalah lain. Percuma kita berpikir sekarang kalau setelah ini kita mati.”

***************************************************************

Ulrica dan Nadz masih memimpin di depan. Mereka menuju belokan yang pertama tadi mereka temukan. Selanjutnya mereka menemukan pertigaan-pertigaan lainnya. Kali ini Nadz tidak akan mencegah Ulrica, dia biarkan serigala kesayangannya itu mengendus-endus lorong dan menunjukkan jalan menuju sesuatu. Setelah melewati pertigaan ke lima Ulrica berhenti dan menggonggong keras.

“Ada apa?” tanya Zeck pada Nadz.

“Ada sesuatu yang tidak beres,” jawab Nadz.

“Tapi aku tidak melihat apa-apa.”

“Serigala memiliki penciuman dan insting yang sangat bagus,” kata Nadz. “Tidak melihat apa-apa bukan berarti tidak ada apa-apa.”

“Lalu apa kita harus berdiam di sini saja?” Kai melangkah maju ke depan, melewati Nadz dan Zeck. Saat Kai maju, gonggongan Ulrica semakin menjadi.

“Ada sesuatu di lorong ini,” Nadz memperingatkan. “Sebaiknya kau kembali ke sini, Kai!”

“Aku tidak takut!” seru Kai. Lalu terdengar bunyi berderak.

“Awas!!” teriak Zeck.

Tiba-tiba muncul lubang-lubang kecil di dinding lorong. Puluhan anak panah keluar dari lubang-lubang itu dan langsung mengincar Kai. Dengan cepat dan refleks Kai menjatuhkan diri dan bertiarap di lantai. Dia bisa mendengar dengan jelas desingan anak panah yang berterbangan di atasnya. Beberapa detik kemudian suara itu berhenti.

“Kai, kau tidak apa-apa?” tanya Zeck.

“Aku baik-baik saja,” Kai mengangkat tangannya. Lalu dia berdiri perlahan.

Kini Ulrica sudah tenang. “Sepertinya sudah aman,” kata Nadz. Lalu ia pun menyusul Kai, begitu juga Zeck. Tapi keadaanya belum seaman yang mereka pikir.

“Ow ow,” ucap Kai.

“Ada apa?” tanya Nadz curiga.

“Sepertinya aku menginjak sesuatu.”

ZRAAKKK

Tiba-tiba lantai terbelah, memecah mereka menjadi dua bagian. Di satu sisi ada Kai, Nadz, dan Zeck, di satu sisi lagi ada Mizzu, White, dan Joy. Lalu dari dalamnya muncul batu besar, lebih menyerupai tembok. Dia bergerak naik dengan cepat dan menutup jalan lorong. Keenam orang itu terpecah menjadi dua.

“Bagus,” keluh Mizzu. “Sekarang kita tidak bisa ke mana-mana.”

“Sebaiknya kita kembali saja,” kata Joy.

“Setuju,” sahut White.

Mereka bertiga pun kembali ke rumah Qiru dan menunggu. Tapi kemudian mereka merasa itu akan sia-sia, jadi mereka memutuskan untuk kembali ke istana,

Sementara itu, Zeck, Kai, dan Nadz bersama Ulrica tidak punya pilihan lain selain melanjutkan perjalanan mereka. Sampai akhirnya mereka melihat ruangan yang sangat terang di ujung lorong. Mereka berlari mendekat dan menemukan teman-teman mereka sendiri sedang terikat.

“Oh, akhirnya,” ucap Nanya lega. “Kita tertolong.”

“Bagaimana kalian bisa terikat begini?” Zeck hendak mendekati dan membebaskan teman-temannya tapi tiba-tiba Ulrica melolong keras. Bersamaan dengan itu muncul tiga orang buronan yang sedang mereka cari. Pertarungan pun tak terelakkan. Tiga lawan tiga. Nadz berhadapan dengan Qiru, Kai berhadapan dengan Vivian, dan Zeck berhadapan dengan Phalos. Meskipun ketiga orang buronan itu telah berhasil membunuh Raja dan Permaisuri, tapi rupanya mereka bukanlah lawan yang seimbang bagi anggota Lockerz yang terpilih. Baik Zeck, Nadz, maupun Kai dapat mengalahkan mereka dengan mudah dan membalik keadaan. Tali yang semula mengikat Key, Nanya, dan Astra sekarang melingkar erat di tangan Qiru, Vivian, dan Phalos. Lalu mereka pun digiring ke istana.

***************************************************************

Sesampainya di istana, ketiga buronan itu di masukkan ke ruang tahanan bawah tanah. Mereka akan mulai diinterogasi pada malam hari. Sementara itu para Lockerz berkumpul dan mengadakan rapat tertutup.

“Jadi mereka sudah tahu kita akan mencari mereka hari ini?” kata Zeck setelah mendengar cerita Key.

“Banyak hal yang aneh,” kata Mizzu. “Menurut keterangan dari Jenderal Guarrdo, tiga orang itu telah meninggalkan rumah mereka sejak mereka jadi buronan. Itu berarti sudah tiga bulan yang lalu. Tapi rumah mereka tidak seperti rumah yang ditinggalkan selama tiga bulan.”

“Mungkin mereka kembali lagi setelah meyakinkan Jenderal Guarrdo kalau mereka tidak lagi tinggal di rumah itu,” Joy mengeluarkan pendapatnya. “Lagipula tidak ada penjagaan yang dikerahkan untuk menjaga rumah mereka. Hanya sekedar berjaga-jaga kalau seandainya mereka kembali.”

“Kalau begitu Guarrdo ceroboh,” sahut Nadz.

“Atau dia sengaja melakukannya,” Key menimpali.

“Kau tidak berpikir kalau Jenderal Guarrdo adalah pengkhianatnya, kan?” tanya Lenka pada Key.

“Aku tidak berkata begitu,” jawab Key. “Karena menurutku ada hal yang lebih aneh lagi.”

“Apa?” tanya Zeck.

“Si pengkhianat ini berada di istana dan tidak melakukan apa-apa,” jawab Key. “Seolah dia sedang menunggu atau mengawasi sesuatu. Sebab kalau dia memang mengincar tahta, dia bisa membunuh Putri Nyssa kapan saja dia mau tanpa ada yang curiga.”

“Mungkin pengkhianat ini bukan lah orang yang mengincar tahta,” Raffie memberi tanggapan. “Bisa jadi dia hanyalah pesuruh atau mata-mata yang berada dalam perintah seseorang.”

“Tetap saja aneh,” kata Key. “Siapa yang dia mata-matai? Untuk apa? Kalau memang Putri yang diincar, kenapa tidak bunuh saja? Apalagi yang harus diawasi?”

“Sepertinya ini lebih dari sekedar merebut tahta,” ujar Nadz. “Ada permainan tersembunyi di balik semua ini. Entah apa tujuannya.”

“Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan jawabannya dari tiga orang itu,” Zeck menghela nafas pendek. “Sekarang kalian istirahatlah, setelah makan malam kita interogasi mereka.”

Masing-masing anggota Lockerz berjalan meninggalkan ruangan. Zeck dan Nadz paling belakang.

“Zeck,” panggil Nadz.

“Ya.”

“Ada sesuatu yang aneh.”

“Aku tahu.”

“Dengan Tara.”

“Tara?” tanya Zeck heran.

“Kau lihat senyumnya tadi pagi?”

“Senyum setelah ku katakan kalau dia bisa memegang kata-kataku?” tanya Zeck setengah ragu.

“Kau memperhatikannya juga, kan? Ada yang aneh dengan senyum itu. Dia langsung menghilangkan senyumnya saat tahu aku sedang memandanginya.”

“Aku juga merasa ada yang aneh dengan raut wajahnya saat itu,” kata Zeck. “Walau hanya sesaat tapi ada sesuatu yang lain. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja,” Zeck mengangkat kedua bahunya.

“Aku yakin itu bukan sekedar perasaan,” kata Nadz. “Kita tidak boleh mempercayainya.”

“Setelah mengetahui ada pengkhianat, ku rasa tidak ada satu pun orang di istana yang bisa kita percaya,” ujar Zeck. ”Bahkan mungkin terhadap sesama anggota Lockerz pun tidak.”

“Aku sependapat denganmu,” Nadz mengangguk setuju.

****************************************************************

Malam harinya, setelah para Lockerz menyelesaikan makan malam mereka, mereka langsung menghampiri ketiga tahanan yang baru mereka tangkap. Tapi sampai di ruang tahanan bawah tanah, mereka mendapatkan kejutan yang lain. Sebuah kejutan yang membuat pemimpin Lockerz naik darah.

****************************************************************

Bersambung…

Story by Zenin Octa

Lockerz Warriors (ReWrite) — Bagian 2

Ini pertama kalinya Zeck menginjakkan kaki di Istana. Bangunan istana benar-benar megah, luas, dan besar. Zeck tercengang dibuatnya. Bersama dengan tiga prajurit pria yang menjemputnya, Zeck melewati gerbang istana yang tinggi menjulang dan terbuat dari besi yang sangat tebal. Sudah pasti tidak ada satu pun yang bisa mendobrak pintu itu. Setelah gerbang, ada halaman depan istana yang sangat sangat luas sekali. Ada tiga buah kolam besar dengan air mancur yang tinggi di tengah-tengahnya. Banyak sekali prajurit atau mungkin pejabat-pejabat istana yang berlalu lalang. Saat itu waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Jam segitu biasanya para penghuni istana sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan masing-masing. Hanya ada satu bangunan yang sangat besar dan tinggi di lingkungan istana itu. Zeck di bawa ke sana. Melewati pintunya yang besar menuju aula yang juga luas. Ada sepasang tangga di sisi kanan dan kiri aula itu. Zeck menyebarkan pandanganya ke sekeliling. Dari lantainya yang putih mengkilap, karpet-karpetnya yang lembut dan bersih, pegangan tangga yang berlapis emas, pintu-pintu dan jendela-jendela yang berhiaskan ukiran-ukiran. Zeck mendongak dan melihat sebuah lampu gantung besar yang terbuat dari kristal. Lampu gantung itu indah sekali, Zeck sampai melongo memandangnya. Kemudian dia dibawa menyeberangi aula itu menuju lorong panjang. Ada banyak ruangan di lorong itu, dan Zeck di bawa ke ruangan nomor tiga di sisi kanan.

“Tunggu di sini,” kata si prajurit. “Sebentar lagi yang lain pasti datang.” Setelah itu si prajurit menutup pintu dan meninggalkan Zeck sendirian. Lagi-lagi Zeck dibuat terkagum-kagum. Di salah satu sisi ruangan itu terdapat lukisan mendiang Sang Raja dan Permaisuri yang sangat besar. Zeck mendekat dan memandangi lukisan itu. Permaisuri terlihat sangat cantik. Bahkan bisa dibilang permaisuri adalah wanita paling cantik yang ada di Terram. Tapi sayang dia harus menyerahkan nyawanya di tangan para pemberontak. Zeck mengangguk pelan sebagai tanda hormat lalu mulai menjelajahi ruangan. Ia berjalan ke arah jendela dan menyentuh tirainya yang lembut dan harum. Tidak seperti tirai di rumahnya yang biasa saja. Ada sepuluh tempat duduk beralaskan bantal di ruangan itu. Di tiap-tiap pojok ruangan berdiri dengan anggunnya pohon-pohon hias yang tertancap kuat di potnya masing-masing. Lampu gantung di ruangan itu juga terbuat dari kristal, hanya saja ukurannya lebih kecil. Zeck mengangguk-angguk karena kagum. Belum puas Zeck memandangi lampu kristal itu, pintu ruangan terbuka. Seorang pria yang sepertinya sebaya dengannya masuk.

“Halo,” sapa pria itu.

“Hai,” Zeck membalasnya sambil tersenyum.

“Namaku Key,” pria itu menghampiri Zeck dan mengulurkan tangannya.

“Zeck,” Zeck menjabat tangan Key. Lalu mereka berdua duduk. “Kau juga dipanggil oleh istana ya?”

“Ya,” Key mengangguk. Kemudian mereka terlibat obrolan ringan. Tidak lama berselang, pintu ruangan kembali terbuka. Zeck dan Key sempat terkejut ketika seekor serigala putih masuk ke ruangan itu. Namun kehadiran seorang perempuan muda di belakang serigala itu sedikit menenangkan. Perempuan muda ini pastilah majikannya.

“Hai,” sapa Zeck dan Key bergantian.

Perempuan muda itu hanya tersenyum. Dia memandangi ruangan sebentar lalu memutuskan untuk duduk berjauhan dari Zeck dan Key. Sementara serigalanya dengan patuh duduk di samping kakinya.

“Aku Zeck dan ini Key,” Zeck memperkenalkan diri. “Siapa namamu?”

“Nadz,” sahut perempuan muda itu cepat. Beberapa menit kemudian pintu ruangan kembali terbuka. Seorang perempuan lainnya bergabung dengan mereka.

“Namaku Mizzu,” perempuan itu memperkenalkan dirinya dengan ramah. Dia duduk di sebelah Nadz. Lalu datang lagi yang lain. Seorang pria muda dengan ikat kepala berwarna merah di kepalanya.

“Wah wah… Ternyata aku tidak sendirian,” tanpa memperdulikan Key dan Zeck, Kai langsung mendekati Nadz dan Mizzu. “Hai, aku Kai,” Kai berdiri di hadapan Nadz. Badannya sedikit membungkuk sambil mengulurkan tangannya. Nadz menatapnya tajam dan galak. “Aku tidak peduli siapa kamu.”

Wajah Kai berubah. Ini pertama kalinya dia ditolak oleh wanita. Tapi dia tidak menyerah, awalnya.

“Aku…” Kai mencoba lagi.

GRRRR… Ulrica, serigala putih milik Nadz langsung berdiri dan menggeram. Kai terkejut dan mundur selangkah. “Baiklah, aku tidak akan menganggu majikanmu.” Lalu Kai beralih pada Mizzu dan duduk di sebelahnya.

“Sepertinya kau tidak segalak dia,” sapa Kai.

Mizzu tersenyum geli melihat ekspresi Kai yang seperti tidak bisa menerima kenyataan. “Namaku Mizzu.” Lalu Zeck dan Key pun memperkenalkan diri. Selanjutnya bergabung lagi bersama mereka seorang pria muda seusia Kai. Pria ini berpakaian sangat sederhana. Dia masuk dan memperkenalkan dirinya. “Namaku Raffie.” Selanjutnya, sedikit lebih lama, orang terakhir pun masuk. “Namaku Joy,” orang itu memperkenalkan dirinya.

“Kira-kira kenapa ya kita dipanggil ke istana?” tanya Kai.

“Entahlah,” jawab Zeck. “Sepertinya pihak istana kekurangan orang.” Komentar Zeck itu mengundang tawa bagi yang lain. Kecuali Nadz yang hanya tersenyum saja.

“Apapun alasannya,” kata Key. “Yang penting bayarannya tinggi. Karena Putri sendiri yang menyewa kita.”

“Setuju,” sahut Kai. Ketujuh orang itu mulai mengakrabkan diri sambil menunggu seseorang datang untuk menjelaskan kenapa mereka di panggil oleh istana. Sekitar setengah jam kemudian, jawaban itu datang.

Sang Putri Mahkota, Nyssa Zrelinna masuk bersama dua orang perwira tinggi. Ketujuh prajurit bayaran itu serentak berdiri dan memberi hormat. Mereka baru duduk kembali setelah Putri dan dua orang perwira tinggi itu duduk. Sejak masuk mata Putri tidak lepas dari Ulrica. “Kenapa binatang itu ada di sini?”

“Hamba harap Yang Mulia tidak keberatan dengan kehadiran Ulrica,” kata Nadz sopan. “Dia sudah seperti saudara bagi hamba.”

“Dia tidak jorok, kan?”

“Tidak, Putri,” Nadz menggeleng. “Ulrica sangat terlatih.”

“Baiklah kalau begitu, tidak masalah.”

“Kalian pasti bertanya-tanya kenapa kalian dipanggil ke istana,” Jenderal Guarrdo membuka pembicaraan. “Kita semua tahu bahwa saat ini istana dan seluruh Terram masih dalam keadaan berduka dengan kematian Sang Raja dan Permaisuri tiga bulan yang lalu. Terram sudah tidak lagi aman. Pihak istana berencana untuk membentuk sebuah pasukan khusus, yaitu pasukan Lockerz untuk melindungi Putri dan Terram. Kalian bertugas untuk menghabisi para pemberontak hingga ke akarnya dan juga memprioritaskan keselamatan Putri.”

“Kami bertujuh?” tanya Zeck.

“Ya,” Guarrdo mengangguk.

“Tidak salah?” kali ini Key yang bicara. “Pekerjaan yang Anda tawarkan itu tidak mudah. Bahkan terdengar susah. Kami bertujuh melawan pemberontak sekaligus melindungi Putri. Rasanya tidak mungkin.”

“Betul,” tambah Mizzu. “Kita butuh orang lebih banyak lagi.”

“Bagaimana pendapat Anda, Putri?” Guarrdo menoleh pada Putri dan mendapati sang Putri sedang menatap pada sesuatu. Guarrdo mengikuti arah pandang Putri yang jatuh pada Kai yang juga sedang menatap Putri. Jadi selama dia menjelaskan panjang lebar tadi, dua orang ini tidak mendengarkan dan malah asyik bertatap-tapan.

“Putri,” kata Guarrdo lagi dengan suara yang sengaja diberatkan.

“Ya?” akhirnya Putri tersadar.

“Apakah Anda setuju jika kita menambah jumlah Lockerz?” tanya Guarrdo sambil melirik tajam pada Kai. Sementara yang dilirik hanya menunduk.

“Terserah kalian saja,” jawab sang Putri. “Jika memang itu yang diperlukan.”

“Baiklah,” ucap Guarrdo setengah berdehem. “Aku akan mencari orang lagi.”

“Ah tidak,” potong Zeck. “Aku tidak bisa bekerja sama dengan sembarangan orang. Keenam orang ini saja aku belum mengenal dengan baik. Jangan ada lagi orang asing. Biar kami saja yang mencari. Kalian tidak keberatan, kan?” Zeck menyebarkan tatapannya pada setiap orang yang ada di ruangan itu.

Key, Mizzu, Kai, dan Raffie setuju sedangkan Joy dan Nadz tidak memberi komentar.

“Baiklah,” kata Tara yang sedari tadi diam. “Kalian boleh mencari orang baru sesuai keinginan kalian, tapi kalian harus terus melaporkan apa saja yang kalian lakukan dan temukan pada kami.”

“Tentu,” Zeck mengangguk. Setelah itu Tara menjelaskan kalau mereka akan mendapatkan tempat tinggal di istana, nanti akan ada orang yang datang menunjukkan kamar mereka masing-masing. Lalu dia bersama Putri dan Guarrdo pergi meninggalkan ruangan.

“Sebelum kita cari anggota baru,” kata Kai. “Sebaiknya kita memilih satu orang dari kita untuk menjadi pemimpin. Biar kita bisa menyamakan pandangan dan tidak bertindak sendiri-sendiri. Karena sekarang kita adalah tim.”

“Setuju,” sahut Key. “Tapi siapa?”

Semua diam dan saling memandang satu sama lain.

“Zeck,” celetuk Nadz. “Aku pilih Zeck. Dia yang mengusulkan untuk mencari anggota baru. Jadi menurutku dia yang pantas untuk bertanggung jawab atas kita semua.”

Semua mata memandang Zeck. “Kau bersedia?” tanya Key.

“Jika kalian setuju,” balas Zeck.

“Kita setuju,” sahut Mizzu.

Maka, dipilihlah Zeck sebagai pemimpin mereka dan bersama-sama mereka mulai menyeleksi anggota baru.

****************************************************************

Ruangan itu selalu gelap, bahkan saat siang sekalipun. Itu karena pemiliknya sama sekali tidak pernah membuka jendela dan tirai yang ada. Jadi tidak heran jika ruangan itu bukan hanya gelap tapi juga pengab. Cahaya di ruangan itu hanya berasal dari lentera-lentera kecil yang dipasang di masing-masing sisi ruangan dan menghasilkan sinar yang remang-remang. Ada sebuah piano di salah satu sudut ruangan. Seorang wanita berusia tiga puluhan duduk di belakang piano dan memainkan sebuah lagu yang terdengar menyedihkan. Seolah ada perasaan kecewa dan sakit hati dalam alunan iramanya. Dia memainkan sambil memejamkan mata dan membiarkan jari-jarinya yang indah menari-nari dengan bebas di atas tuts piano.

KRIEETTT

Terdengar suara pintu terbuka. Wanita itu menghentikan permainan pianonya. Dia membuka mata dan melihat pada sosok yang masuk.

“Kita tidak ada janji untuk bertemu,” wanita itu berdiri dan duduk di sebuah kursi. Tamunya pun duduk di hadapannya.

“Ada perubahan,” kata tamunya.

“Maksudnya?”

“Tujuh orang itu ingin mencari anggota baru.”

“Kalau begitu masukkan saja orang-orang kita.”

“Tidak bisa semudah itu,” sela si tamu. “Mereka ingin mencari anggota sendiri.”

“Kalau begitu pilih orang untuk ikut audisi mereka.”

“Sudah ku bilang tidak semudah itu!” hardik si tamu. “Zeck dan Nadz, mereka memilki insting yang tajam. Mereka tidak mudah dibohongi. Mereka bisa menilai orang hanya dengan menatap matanya. Butuh orang yang benar-benar pandai bersandiwara untuk bisa mengelabui mereka. Kita tidak punya orang seperti itu. Ditambah lagi, kita tidak memiliki orang yang bisa menandingi kecepatan Mizzu dan Raffie. Mereka sudah pasti akan memilih orang yang paling tidak, bisa menyamai mereka. Tujuh orang itu benar-benar orang yang terpilih. Kita terpaksa menyerahkannya pada mereka.”

“Hmmm…” si nyonya rumah mengangguk berkali-kali. “Lalu kenapa kau memilih mereka?”

“Cepat atau lambat Guarrdo akan sadar kalau Terram memiliki petarung-petarung yang hebat dan tak terkalahkan,” jawab si tamu. “Aku harus lebih cepat dari dia. Aku akan tunjukkan pada Putri manja itu kalau aku jauh lebih bisa berjasa dari pada Guarrdo. Aku lebih pantas untuk menjadi Perdana Menteri dari pada pria tua itu. Dan setelah keinginanku terkabul. Putri dan Lockerz akan ku singkirkan. Dan kau, bisa mengambil alih tahtanya.”

“Kau benar-benar licik,” samar-samar si nyonya rumah tersenyum. “Aku suka itu. Tapi bagaimana caranya kau menyingkirkan petarung-petarung terhebat Terram?”

“Tidak perlu cemas soal itu,” jawab si tamu. “Aku telah mempelajari hidup mereka. Mereka punya kelemahan. Dan hanya aku yang tahu kelemahan mereka.”

“Kau bersedia untuk membaginya denganku?”

“Di sini,” si tamu menyentuh dadanya. “Mereka lemah di sini. Sama seperti Raja dan Permaisuri, mereka terlalu menggunakan hati dan perasaan. Setelah aku mendapatkan keinginanku, aku akan menghancurkan mereka dari sini,” si tamu menepuk dadanya pelan. “Akan ku hancurkan hati mereka dan ku porak porandakan perasaan mereka,” ia mengakhiri kalimatnya dengan tawa licik. Namun sesaat kemudian dia berhenti. “Yang menjadi masalah sekarang adalah, aku tidak tahu siapa saja yang akan mereka rekrut untuk bergabung bersama mereka.”

****************************************************************

Zeck telah terpilih sebagai pemimpin Lockerz. Dia bersama keenam teman barunya di Lockerz menyebarkan undangan untuk audisi sebagi prajurit Lockerz ke seluruh pelosok Terram. Alhasil, hampir ratusan orang mendaftarkan diri.

“Bagaimana cara kita menyeleksi mereka?” Key tertegun menelan ludah.

“Tentu saja mereka harus melawan kita,” jawab Zeck.

“Sebanyak ini?”

“Aku tidak keberatan,” sahut Kai. “Aku siap melayani siapa pun yang ingin berduel denganku.”

“Aku juga pasti akan sangat menikmatinya,” tambah Mizzu.

“Aku bisa jadikan ini olahraga ringan,” kata Nadz.

“Ini akan sangat membosankan,” Raffie menggeleng lemas.

“Dan melelahkan,” Joy menambahkan.

“Lalu bagaimana cara menentukan siapa yang akan kita pilih?” tanya Key lagi.

“Akan ku buat aturannya,” jawab Zeck. “Kita akan mulai menyeleksi mereka besok. Jadi hari ini kumpulkan tenaga saja.”

Keesokan harinya, penyeleksian dilaksanakan pada pukul 10 pagi. Zeck telah menentukan aturan, bagi yang bisa menjatuhkan mereka–tujuh Lockerz ini–dalam tiga jurus berturut-turut tanpa jeda, akan diangkat sebagai anggota Lockerz. Penyeleksian pun di mulai, dan enam orang terpilih.

****************************************************************

Pemenang pertama. Nanya Orin, 23 tahun.

Lawan ke dua puluh lima Key adalah seorang wanita bertubuh jangkung. Key bahkan harus sedikit mendongak untuk melihat wajahnya. Wanita ini mengenakan atasan bra berwarna merah yang terbuat dari bahan kulit. Seutas tali yang juga berwarna merah diikatkan di lengan kanannya. Ia mengenakan celana kulit panjang yang lagi-lagi berwarna merah. Hanya sepatu boot dan ikat pinggangnya saja yang berwarna hitam. Wanita berambut panjang dan sedikit ikal ini rupanya bukan tipe orang yang sabaran. Begitu gilirannya datang, dia langsung saja menerjang Key. Jurus pertama, Key berhasil menghindar. Nanya menyerang lagi. Ia mengayunkan pedangnya ke depan mengincar Key. Ia berputar dengan gesit dan nyaris melukai Key jika seandainya Key tidak cepat menaikkan pedangnya untuk menangkis. Nanya memiliki mata yang sangat jeli, ia melihat celah. Kakinya bergerak. Key terlambat menyadari. Jurus ketiga, Nanya membuat Key jatuh berlutut di tanah.

“Nanya Orin,” Nanya mengulurkan tangannya dan membantu Key berdiri. “Siap bergabung dengan Lockerz.”

****************************************************************

Pemenang kedua. Tian Nobel, 22 tahun.

Raffie mulai merasa bosan. Tujuh puluh lima orang sudah dia hadapi, dan tak ada satu pun dari mereka yang berhasil mengalahkannya dalam tiga jurus berturut-turut tanpa jeda. Lalu datang giliran laki-laki ini. Laki-laki berambut pirang dan keriting. Tubuhnya terlihat sangat ramping. Ia mengenakan kemeja berlengan panjang dengan dua kancing atas yang terbuka, celana, dan sepatu biasa. Gayanya hampir mirip seseorang yang bekerja di pemerintahan, hanya saja yang ini lebih berantakan. Laki-laki ini bersenjatakan dua buah trisula di tangan kanan dan kirinya. Ia memainkan kedua trisula di depan wajahnya dengan cepat. Raffie tercengang. Matanya nyaris tidak bisa membaca gerakan tangan laki-laki itu. Cepat sekali. Tiba-tiba sepasang trisula itu sudah mengarah kepadanya. Raffie terkejut dan segera melompat ke belakang. Laki-laki itu mengejar dengan sepasang trisula yang masih menghunus ke depan. Raffie mengangkat pedangnya dan menangkis. Lalu… BUG… hampir di saat yang bersamaan pria itu menendang perut Raffie dan membuatnya melayang lalu mendarat keras di tanah.

Laki-laki berambut pirang keriting itu merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum puas. “Tian Nobel siap bergabung dengan Lockerz!”

****************************************************************

Pemenang ketiga. Rajha Arundel, 19 tahun.

Sudah lebih dari seratus orang dia hadapi, tapi Zeck masih tegak berdiri. Sekarang dia menghadapi lawannya yang ke seratus tiga belas. Seorang pria muda dengan gaya sedikit arogan. Wajahnya lumayan tampan. Kulitnya hitam manis. Rambutnya berantakan. Ia mengenakan kaos dan jaket kulit. Kedua tangannya ditutup oleh sepasang kaos tangan yang juga berbahan kulit. Begitu juga celana panjangnya dan sepatu bootnya. Ia menggunakan rantai sebagai ikat pinggangnya. Dua buah kalung berbandul logam menggantung di lehernya. Tatapan matanya meremahkan, seolah ingin mengatakan kalau dialah manusia paling sempurna di dunia. Dalam hati Zeck sangat muak melihat tampang pria muda itu dan ingin segera menjatuhkannya. Tapi ternyata itu tidak mudah. Pria itu mempunyai jenis pedang yang biasa. Tapi cara dia mengayunkannya benar-benar luwes. Walau benci mengakui hal ini, tapi Zeck dibuat kagum oleh keluwesannya. Pria muda itu memutar-mutar pedangnya dan dengan langkahnya yang ringan dia maju. Setelah jarak memungkinkan dia melakukan gerakan menusuk. Zeck berhasil menangkis dan menepisnya. Pria itu berputar dan menyerang dengan sikutnya. Zeck pun berhasil menahannya dengan tangan. Namun kemudian dengan cepat pria muda itu mengangkat tangannya lebih tinggi dan meraih kepala Zeck. Dengan cepat dia menggapit dan menariknya. Tubuh Zeck terangkat ke udara lalu terbanting keras berdebum di tanah.

“Sial!” Zeck mengumpat kesal sambil memegang kepalanya.

“Maaf,” pria muda itu tersenyum angkuh. “Ku harap aku tidak terlalu melukaimu.”

“Tidak!” hardik Zeck.

“Aku Rajha Arundel,” pria itu mengulurkan tangannya. “Ku rasa aku lulus dan bisa menjadi bagian dari Lockerz.”

“Ya, menepilah ke sana,” perintah Zeck masih dengan wajah kesal.

****************************************************************

Pemenang keempat. Astra Nixie, 24 tahun.

Ini adalah lawan Joy yang ke seratus delapan puluh. Keringat mengucur dari keningnya. Joy menghela nafas pendek. Sudah banyak lawan tapi belum juga ada yang bisa membuatnya terjatuh. Sekarang dia berharap lawan selanjutnya ini bisa mengalahkan dia. Joy boleh bersyukur karena harapannya itu akan segera terkabul. Seorang perempuan berambut panjang yang seluruhnya dikepang kecil-kecil maju menantangnya. Dia mengenakan kaos yang sangat pendek dan tanpa lengan. Pada bagian perutnya yang terbuka terdapat tato bergambar kupu-kupu di sebelah kiri. Ia mengenakan celana panjang yang sangat longgar dan sepasang sepatu sandal yang terbuat dari bahan kayu. Perempuan ini menyelempangkan sabuk pedangnya di tubuhnya. Matanya tajam menatap pada Joy. Joy tidak suka ditatap seperti itu jadi ia memilih untuk sedikit menunduk.

Sesuai peraturan perempuan itu menyerang lebih dulu. Serangan pertama Joy bisa menghindar. Ia bergerak cepat ke samping. Perempuan itu mengejar, Joy berhasil menghindar lagi.

“Kenapa kau selalu menghindar?” tanya perempuan itu kesal. Kesempatannya tinggal satu kali lagi, harus digunakan sebaik-baiknya. Ia menyimpan pedangnya lalu menerjang Joy dengan tangan kosong. Joy mengernyitkan keningnya karena heran. Ia siap mendorong tombaknya dan membuat perempuan itu terjatuh. Tapi tiba-tiba perempuan itu memutar tubuhnya dan menangkap tombak Joy dengan kedua tangannya. Ia menariknya dengan kencang dan melancarkan satu tinju keras ke wajah Joy. Otomatis Joy tersentak dan terhuyung ke belakang. Ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh.

“Astra Nixie,” perempuan itu mengembalikan tombak milik Joy. “Siap bergabung dengan Lockerz.”

****************************************************************

Pemenang kelima. White Romero, 24 tahun.

Mizzu tampak sangat menikmati pertarungan-pertarungan kecilnya yang marathon itu. Mizzu sama sekali tidak merasa kelelahan, justru sebaliknya dia malah tambah bersemangat. Lalu majulah pria yang satu ini dengan penampilan sedikit nyentrik. Pria ini berambut cepak berdiri dan berwarna putih. Wajahnya tirus dengan hidung yang sangat mancung. Ia mengenakan celak mata hitam tebal di sekeliling matanya. Ia mengenakan mantel putih berlengan pendek dengan kancing yang tertutup rapat. Bagian bawah mantelnya lumayan panjang hingga selutut. Sepasang ban berwarna hitam menghiasi kedua pergelangan tangannya. Celananya panjang dengan banyak kantong dan pada bagian bawahnya dimasukkan ke dalam sepatu. Dia membawa pedangnya di punggung.

“Halo, cantik,” bibir tipis pria itu membentuk sebuah senyum tipis. “Aku sangat terkesan dengan kemampuanmu. Membuatku jadi bergairah.”

“Hah?” Mizzu menaikkan sebelah alisnya. “Kalau begitu majulah dan bercinta dengan pedangku.”

“Dengan senang hati, sayang.” Pria berambut putih itu berlari sambil mencabut pedangnya. Dia mengayunkan pedangnya cepat. TRANG… Mizu menyilangkan kedua pedangnya dan menangkis serangan. Si rambut putih menarik pedangnya dan melakukan gerakan menusuk dengan sangat cepat. Tapi kecepatannya belum bisa mengalahkan Mizzu yang telah lebih dulu menepisnya. Lalu pria itu melakukan gerakan yang diluar dugaan. Dia melepas pedangnya dan terus bergerak maju. Kali ini lebih cepat dari Mizzu. Dia berhasil meraih pinggang Mizzu dengan kedua tangannya. Mizzu terkejut bukan main. Lalu tiba-tiba pria itu menariknya dan menjatuhkan diri ke tanah. Pertama pria itu berada di bawah dan Mizzu berada di atas. Tapi kemudian pria itu berguling dan posisi mereka tertukar. Kini Mizzu berada di bawah, tertindih oleh tubuh si pria yang tersenyum penuh misteri.

“Ternyata kau lebih cantik kalau dilihat dari dekat begini,” ucap si pria.

“Singkirkan tubuhmu atau kau akan menyesal,” ancam Mizzu. Kedua pedangnya telah siap menusuk rusuk si pria.

“Tapi aku menang kan?”

“Aku akan merubah kemenanganmu jadi kematian kalau kau tidak menyingkirkan tubuhmu sekarang juga.”

Pria itu menuruti perkataan Mizzu. Dia berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu tapi Mizzu menolaknya.

“Namaku White Romero kalau kau penasaran,” kata pria itu setelah memungut kembali pedangnya. “Dan aku sangat senang bisa bergabung denganmu di Lockerz.”

****************************************************************

Pemenang keenam. Lenka Faym, 21 tahun.

Sudah dua setengah jam lebih penyeleksian berlangsung. Lima orang telah terpilih. Peserta pun sudah hampir habis. Zeck, Key, Joy, Raffie, Mizu, dan Nadz yang belum terkalahkan telah kehabisan lawan. Kini tersisa satu orang yang menjadi lawan Kai. Seorang lawan yang tidak hanya membuat mulut Kai menganga lebar tapi anggota Lockerz lainnya pun tercengang dibuatnya.

“Gila!” seru Zeck. “Dia nyaris telanjang.”

“Dia pakai baju apa itu?” tanya Key.

“Ada yang lebih seksi dari Nadz,” celetuk Raffie.

“Dia pakai swim suit,” kata Mizzu.

“Ku rasa dia setengah gila,” sahut Nadz.

“Kai akan kalah dalam satu serangan,” kata Joy. “Air liurnya sudah mengalir kemana-mana.”

Benar kata Joy. Kai hanya terpaku diam. Matanya tak berkedip sedikit pun melihat penampilan si perempuan yang menjadi lawannya kini. Mulutnya terbuka lebar dengan lidah yang nyaris menjulur. Saat wanita itu menyerangnya pun dia hanya diam. Bahkan sampai wanita bersenjatakan tongkat itu memukul kepalanya, Kai masih terdiam. Seolah dia telah terhipnotis.

“Ini tidak benar,” Zeck menggeleng berkali-kali. “Nadz, kau gantikan Kai. Lawan wanita setengah telanjang itu.”

“Kalau perlu telanjangi saja sekalian dia,” sahut Key.

“Dasar pria mesum,” celetuk Joy pelan.

Nadz pun maju dan mengambil alih tempat Kai yang masih seperti orang terhipnotis. Nadz memperhatikan wanita itu dengan seksama. Wanita itu tidak begitu cantik tapi dia memiliki wajah yang kalem. Rambutnya kuning keemasan dan tergerai indah hingga ke punggung. Ia mengenakan sepatu berhak sebagai alas kakinya. Dalam hati Nadz memuji kulitnya yang putih mulus dan bersih. Jelas wanita ini lebih putih dari dirinya. Nampaknya Nadz juga mulai mengagumi dan sedikit terhipnotis dengan penampilan wanita itu. Tapi kesadarannya langsung kembali saat wanita itu memainkan tongkatnya yang panjang ke arah dirinya. Nadz melangkah mundur dan memiringkan tubuh untuk menghindar. Wanita itu langsung mengayunkan tongkatnya lagi ke samping, mengincar pinggang Nadz. Nadz mengangkat pedangnya dan menangkis serangan si wanita. Lalu dengan cepat si wanita memegang ujung tongkatnya dan mendorong keras hingga menghantam dada Nadz dan membuatnya terjatuh ke tanah.

“Sial!” umpat Nadz sambil memegangi dadanya yang sakit.

“Maaf”, kata wanita itu lembut. “Namaku Lenka Fayme. Aku….”

“Tunggu dulu!” Zeck berlari kecil mendekat. “Aku tidak bisa menerimamu.”

“Tapi aku menang.”

“Ya karena pakaianmu itu kau bisa menang,” hardik Zeck. “Kau bisa membuyarkan konsentrasi para Lockerz.”

“Kau menolakku hanya karena pakaianku?” tanya Lenka tidak percaya.

“Zeck itu munafik juga ya,” bisik Kai pada Mizzu yang berdiri di sebelahnya. “Tidak mungkin dia tidak tertarik dengan wanita itu.”

“Kalau kau mau merubah gayamu, aku akan masukkan kau ke pasukan ini,” kata Zeck.

“Baiklah,” Lenka mengangguk pasrah. “Akan ku lakukan apa saja untuk bisa bergabung bersama Lockerz dan mengabdi pada Putri.”

Jadi begitulah. Tiga belas orang telah teprilih. Kini mereka siap untuk menjalankan tugas.

*****************************************************************

Bersambung…

Story by Zenin Octa

Lockerz Warriors (ReWrite) — Bagian 1

Matahari pagi masih terasa hangat. Suara kicau burung berkumandang merdu di halaman istana. Sekelompok prajurit sedang bercanda gurau di pos mereka. Tiga orang prajurit pria dan dua orang prajurit wanita. Entah apa yang mereka bicarakan sampai mereka terbahak-bahak seperti itu. Namun kemudian tawa mereka berhenti ketika komandan mereka datang. Dan ketika sang komandan sedang memberi teguran, Putri Mahkota lewat dan semuanya memberi hormat. Si komandan jaga baru akan menyapa Putri, tapi bibirnya terdiam dalam keadaan setengah terbuka saat mendengar Putri yang seperti marah-marah.

“Kenapa pertemuannya pagi-pagi sekali?” tanya sang Putri dengan nada merajuk. Putri cantik dalam balutan gaun merah muda yang indah itu berjalan pelan dengan wajah yang masih mengantuk. Dia dikawal oleh tiga orang prajurit.

“Kemarin Tuan Putri sendiri yang menyetujui untuk mengadakan pertemuan ini pagi-pagi,” jawab seorang pengawalnya.

“Aaahhh…..” sang Putri merentangkan tangannya. “Tapi aku masih ingin tidur.”

“Kita sedang dalam situasi yang tidak aman, Yang Mulia,” kata si pengawal. “Tidak baik jika Anda tidur terus. Anda adalah penerus tahta. Masa depan Terram ada di tangan Anda.”

“Bla bla bla….” potong sang Putri cepat. “Kalian semua sama saja. Cerewet sekali. Aku ini baru 16 tahun. Di usia segini seharusnya aku ini bersenang-senang. Masalah negara serahkan saja pada Perdana Menteri.”

“Tapi keputusan tetap harus ada di tangan Anda, Yang Mulia.”

“Terserahlah,” sang Putri memutar bola matanya dengan malas.

Lima orang perwira tinggi termasuk sang Perdana Menteri telah siap di ruangan yang dijanjikan. Begitu Putri masuk, tanpa basa-basi mereka memberi hormat dan langsung masuk pada pokok pembicaraan.

“Ini adalah kandidat yang saya sarankan,” Tara membagikan tujuh lembar kertas pada masing-masing yang hadir. Tara adalah seorang perwira tinggi berpangkat Kolonel. Usianya hampir mencapai 40 tahun, tapi wajahnya masih terlihat cantik. Rambutnya yang panjang dan hitam selalu digulung di atas kepalanya.

“Tapi mereka semua ini adalah prajurit bayaran,” komentar Jenderal Guarrdo selaku Perdana Menteri.

“Justru karena mereka adalah prajurit bayaran,” Tara menanggapi. “Kemampuan mereka tidak perlu dipertanyakan lagi.”

“Ini gila,” Guarrdo membanting tujuh lembar kertas di tangannya ke meja. “Memangnya kita tidak punya orang yang tangguh yang bisa menjadi pasukan Lockerz?”

“Ada. Tapi usianya sudah sebaya dengan kita,” jawab Tara. “Kita butuh orang-orang yang masih muda dan gesit. Juga kreatif. Dan tujuh orang ini sangat memenuhi kriteria tersebut.”

Kedua orang itu terus berdebat, yang lain pun tidak mau ketinggalan mengeluarkan pendapat masing-masing. Begitu asyiknya mereka berdebat sampai mereka tidak menyadari kalau sang Putri sudah tertidur pulas di kursinya. Mereka baru sadar ketika tanpa sengaja Putri mengeluarkan suara dengkuran yang keras.

“Astaga,” Guarrdo memegangi kepalanya. Jenderal berambut putih cepak berdiri itu tidak percaya Putri bisa tidur di saat seperti ini. “Anak ini benar-benar tidak bisa diandalkan. Berbeda sekali dengan mendiang orang tuanya.”

“Yang Mulia,” Tara membangunkan Putri dengan lembut. Setelah beberapa kali mengguncang tubuhnya pelan, akhirnya sang Putri bangun juga. “Bagaimana pendapat Yang Mulia dengan kandidat yang saya ajukan?”

“Setuju,” jawab sang Putri sambil mengangguk menahan kantuk.

“Dia bahkan sama sekali belum melihat kandidat-kandidat itu,” celetuk Guarrdo kesal.

“Tapi Yang Mulia setuju,” sahut Tara. “Kita harus segera mengumpulkan tujuh orang ini.”

***************************************************************

Kandidat pertama. Zeck Necco, 26 tahun.

Di sebuah kota kecil bernama Cilwin, ada satu rumah makan yang sangat terkenal. Namanya Kedai Necco. Kedai itu adalah milik pasangan Necco. Seperti biasa, di siang hari Kedai Necco selalu dipadati oleh pengunjung. Namun ada satu yang kurang biasa, Zeck Necco duduk bersantai di depan kedai. Kakinya bersila sambil bersandar pada tembok. Ia mengelap pedangnya yang tajam berkilau. Pria ini bertubuh ateltis. Ia memiliki tato di kanan dan kiri lengannya. Rambutnya dibiarkan memanjang hingga bahu dengan model yang berantakan. Sebuah anting bulu, entah bulu ayam atau bulu angsa bergantung di telinga kanannya. Ia mengenakan kaos tanpa lengan, celana panjang kulit, dan sepatu boot yang semuanya berwarna hitam. Sudah hampir tiga bulan Zeck tidak ada pekerjaan. Jadi kerjaannya selama ini hanyalah bersantai di kedai yang dikelola mati-matian oleh istrinya. Zeck baru saja mulai besenandung pelan sambil membersihkan pedangnya ketika sebuah sendok melayang menghantam kepalanya.

“Aduh!” Zeck memegangi kepalanya.

“Hei Tuan!” bentak Phika, istrinya. Dia sudah berdiri sambil berkacak pinggang di ambang pintu. “Tidak ada kerjaan kan? Bantu-bantu sana di belakang. Dasar pemalas. Udah tahu istrinya lagi sibuk begini dia malah santai-santai!”

“Aku sedang menunggu pekerjaan,” Zeck membela diri.

“Pekerjaan apa?! Kalau lagi gak laku ya gak laku aja. Lagipula kota ini aman, siapa yang butuh prajurit bayaran? Lebih baik kamu cari pekerjaan lain saja!”

“Dasar bawel,” gerutu Zeck sambil berdiri dan menyimpan kembali pedangnya.

“Zeck Necco.”

Zeck dan Phika spontan menoleh ke sumber suara. Tiga orang pria berpakaian prajurit tengah berdiri dengan gagah di depan kedai mereka.

“Saya,” ucap Zeck.

“Istana membutuhkan Anda.”

“Sudah ku bilang aku sedang menunggu pekerjaan,” Zeck melirik Phika sambil tersenyum puas.

***************************************************************

Kandidat kedua. Key Ayimu, 25 tahun.

Berton adalah kota pusatnya para ilmuwan. Sebuah bangunan raksasa yang merupakan pusat teknologi dan ilmu pengetahuan ada di kota ini. Berton bahkan dijuluki sebagai kota ilmiah. Di kota inilah segala macam penelitian demi kelangsungan hidup manusia dilakukan. Saat waktu menunjukkan pukul 12:00 tepat, sebuah alarm tanda istirahat berbunyi keras di seluruh penjuru bangunan. Semua orang keluar dari ruangan kerja mereka masing-masing dan berbondong-bondong menuju bangunan kantin yang juga sangat besar dan luas. Di antara kerumunan orang itu, yang hampir semuanya berpakaian putih, seorang pria berpakaian lain dari yang lain berlari-lari kecil menyibak kerumunan. Pria ini bertubuh kekar dan tinggi. Dia mengenakan kaos dan celana berwarna hijau serta mantel hitam yang panjangnya hampir selutut. Sepasang belati terpasang rapi di ikat pinggangnya, sementara sebuah pedang besar bertengger di punggungnya. Sepatu bootnya menapak tegas di lantai saat dia berlari. Pria itu sampai di bangunan kantin. Dia mencari kesana kemari. Lalu berhenti dan tersenyum. Ia melangkah pelan ke sebuah meja yang sudah penuh.

“Selamat siang,” sapanya sopan.

“Kamu?”

“Eh, tunangannya V’die ya?” tanya seseorang.

“Boleh gabung?”

“Boleh. Boleh,” jawab yang lain. Mereka minggir dan memberi tempat di samping V’die.

“Namaku Key,” pria itu memperkenalnkan diri.

“Salah satu prajurit bayarannya Bos Besar kan?”

“Iya,” Key mengangguk.

“Kenapa kamu bisa ada disini?’ tanya V’die. “Apa tidak dicariin?”

“Kata Bos aku boleh santai hari ini,” jawab Key. “Sudah sebulan tidak ada peristiwa aneh. Jadi tidak ada salahnya kan kalau bersantai sebentar?”

Siang itu Key menghabiskan waktu istirahatnya, atau waktu makan siangnya bersama tunangannya dan teman-teman tunangannya. Lalu tiga orang prajurit datang menghampiri.

“Key Ayimu.”

“Ya?” Key menoleh.

“Istana membutuhkan Anda.”

***************************************************************

Kandidat Ketiga. Nadz Evolz, 20 tahun.

Jika ada satu tempat di Terram yang menyeramkan, itu adalah hutan Hollis. Banyak serigala-serigala liar yang berkeliaran di sana. Nyaris tidak ada seorang pun yang berani melintasi hutan Hollis. Tapi bukan berarti hutan itu tidak berpenghuni. Sekelompok wanita yang menamakan diri mereka Amazone berhasil menaklukkan hutan dan menjadikannya tempat tinggal mereka. Sudah hampir dua abad klan Amazone menempati hutan Hollis. Dan sebagian dari mereka hidup dari merampok orang-orang yang kebetulan harus melintasi hutan Hollis. Siang itu, kebetulan ada rombongan pedagang besar yang terpaksa melintasi hutan Hollis untuk menghemat waktu. Penjagaan yang super ketat dengan puluhan prajurit tidak membuat klan Amazone gentar. Mereka menyerang dari segala penjuru. Mereka berhasil menguasai keadaan. Lalu terdengar bunyi lolongan serigala.

Semua orang berhenti. Lolongan serigala di siang bolong itu adalah hal yang tidak biasa. Lalu entah dari mana datangnya seorang perempuan muncul dengan kecepatan luar biasa. Dia mengayunkan pedangnya dengan indah seperti menari. Langkahnya tak terbaca. Dalam dua detik, lima dari perampok itu tumbang, bukan mati, hanya pingsan. Dia berdiri di tengah-tengah musuhnya yang tecengang. Lalu terdengar lagi lolongan serigala. Kali ini sang serigala muncul dan berjalan pelan mendekati si perempuan tadi.

“Kenapa kau selalu menganggu pekerjaan kami, Nadz?” protes salah seorang perampok.

“Aku tidak suka cara kalian.” jawab Nadz enteng. Dia menancapkan pedangnya yang panjang ke tanah lalu menyandarkan tangannya di pedang itu. Sementara tangannya yang satu lagi mengusap-usap serigala putih yang duduk manis di sampingnya. “Sebaiknya sekarang kalian pergi. Sebelum niatku untuk membunuh datang.”

“Suatu saat kamu pasti akan menerima balasannya.” Lalu para perampok itu berserta kawannya pergi.

“Terima kasih,” kata rombongan pedagang dan pengawal mereka yang tersisa.

“Kalian bisa berterima kasih dengan uang,” kata Nadz.

“Dengan senang hati, Nona.”

Kemudian terdengar derap kaki kuda dari arah berlawanan. Nadz memiliki pendengaran yang tajam. Itu suara tiga ekor kuda. Dan benar, tidak lama kemudian, tiga orang prajurit datang dengan menunggangi kuda.

“Nadz Evolz,” kata salah seorang prajurit sambil melihat selembar kertas di tangannya.

“Aku orangnya,” sahut Nadz.

Prajurit itu tertegun, begitu juga kedua temannya. Ketiga pasang mata prajurit pria itu tak berkedip memperhatikan Nadz dari atas sampai bawah. Nadz adalah seorang wanita yang muda, cantik, dan seksi. Rambutnya hitam lurus panjang sepundak dengan ujung-ujung rambutnya yang mencuat keluar. Ia hanya mengenakan longtorso yang menggunakan tali sebagai pengganti kancing pada bagian depan dan membiarkan perut bagian pusar terbuka begitu saja. Nadz mengenakan sarung tangan hitam panjang hingga ke siku di kedua tangannya. Celananya pun sangat sangat pendek sekali. Sehelai kain diikatkan di celana itu dan menutup paha kanannya. Dan sepatu bootnya yang tidak terlalu tinggi, hanya sampai sepuluh centi di atas mata kaki, menambah unsur seksi dalam dirinya. Dia tidak memliki selongsong pedang. Dia selalu membawa begitu saja pedangnya yang besar dan panjang dengan ukiran indah di gagangnya.

“Kalian mencariku?” tanya Nadz.

“Ah, iya,” prajurit pertama tersadar dari terpesonanya. “Istana membutuhkan Anda.”

“Ulrica boleh ikut?”

“Siapa?”

“Serigalaku,” Nadz mengangguk ke arah serigalanya. “Aku tidak akan pergi kalau dia tidak boleh ikut.”

“Untuk saat ini mungkin boleh,” kata si prajurit ragu.

***************************************************************

Kandidat keempat. Mizzu Berween, 25 tahun.

Senja datang menghampiri kota Jahan. Sebuah kota besar tempat tinggal para bangsawan. Kota ini juga memiliki tingkat kejahatan paling tinggi. Dipayungi oleh lembayung senja, Mizzu berjalan dengan lengkah cepat melintasi jembatan. Wajahnya sedikit tertunduk tapi pandangannya lurus ke depan. Mizzu sangat terkenal di Jahan sebagai prajurit bayaran yang sangat hebat dan ditakuti. Banyak bangsawan yang memperebutkannya untuk dijadikan pengawal pribadi. Sementara banyak pria yang terpikat oleh kecantikannya dan berebut untuk mendapatkannya. Tidak mudah untuk mengambil hati Mizzu. Wanita berusia 25 tahun ini memiliki rambut berwarna coklat keemasan dan sangat panjang. Sangat panjang sekali. Dia sudah mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda, tapi bagian ujung bawah rambutnya masih sepanjang pinggul. Entah sepanjang apa rambutnya jika tidak diikat. Mizzu selalu mengenakan gaun terusan. Bukan gaun yang biasa dipakai orang untuk ke pesta. Gaun yang ini sedikit berbeda. Gaun Mizzu tanpa lengan dan memiliki tali yang diikat ke belakang pada bagian leher. Sehingga bagian punggungnya terbuka lebar. Gaunnya juga tidak panjang, hanya sampai dua puluh centi di atas lutut. Tapi sepatunya sangat panjang hingga lutut. Mizzu mengenakan ikat pinggang yang kecil dan ramping. Di kedua sisi ikat pinggang itu ada sepasang pedang yang tidak terlalu panjang, warnanya perak mengkilap dengan tiga buah permata di masing-masing gagangnya.

Seperti di bilang tadi, banyak pria yang memperebutkan Mizzu. Tapi Mizzu sudah menetapkan pilihan.

“Aku pulang,” kata Mizzu saat membuka pintu rumahnya.

“Tumben masih sore begini sudah pulang,” sambut Ara. Pria yang telah berhasil mengambil hati Mizzu dan menikahinya. Ara adalah seorang pejabat muda yang bekerja untuk pemerintahan kota Jahan. Dan dia sedikit keberatan dengan pekerjaan istrinya.

“Hari ini kontrakku selesai,” kata Mizzu sambil melepaskan ikat pinggangnya. Dia duduk bersandar di samping Ara. “Pencuri guci wasiatnya telah berhasil ku tangkap. Capek sekali rasanya,” Mizzu merentangkan kedua tangannya dan meregangkan otot-ototnya yang kaku.

“Kalau begitu kamu sudah bisa berhenti dari pekerjaanmu, kan?”

“Terus apa yang harus aku lakukan? Aku kan tidak punya keahlian lain.”

“Ayolah, sayang,” Ara merangkul Mizzu. “Pekerjaanmu itu sangat berbahaya sekali. Lagipula kan kita punya banyak polisi untuk mengurusi hal-hal semacam itu. Kamu tidak perlu ikut campur.”

“Polisi-polisi itu kerjanya sangat lamban,” sela Mizzu. “Lagipula aku sudah enam tahun menjalani profesi ini. Tidak bisa berhenti begitu saja. Kamu sendiri dulu yang bilang tidak masalah. Setelah menikah kenapa jadi protes?”

“Karena aku tidak mau terjadi apa-apa padamu,” jawab Ara. “Tidak selamanya kau bisa selamat.”

“Iya… Aku…”

“Permisi!”

“Ada tamu,” Ara berdiri dan berjalan menuju pintu. Mizzu menyusulnya dari belakang. Mereka berdua terkejut mendapati tiga prajurit pria berdiri di depan pintu.

“Kami mencari Mizzu Berween,” kata salah seorang prajurit.

“Saya orangnya,” Mizzu melangkah maju.

“Istana membutuhkan Anda.”

***************************************************************

Kandidat kelima. Kai Matari, 21 tahun.

Kerumunan orang sedang memadati pusat kota Tibal. Sore itu sedang terjadi duel seru. Dan hampir semua orang menyerukan satu nama. “Kai… Kai… Kai…”

Kai Matari, pria muda dan tampan ini sangat digandrungi oleh wanita-wanita kota Tibal. Semua wanita tergila-gila padanya. Tidak sedikit yang mau melakukan apa saja asal bisa melewatkan satu malam saja bersama Kai. Tentu saja Kai tidak bisa menolak. Itulah kelemahannya, ia tidak bisa melihat perempuan cantik sedikit saja, air liurnya pasti menetes. Tapi diluar sifat mata keranjangnya itu, Kai adalah seorang prajurit bayaran yang tak tertandingi di kota Tibal. Siapa pun yang berduel dengannya sudah pasti kalah. Itu juga yang terjadi sore itu. Setelah menjatuhkan lawannya dan membuat lawannya menyerah, Kai meletakkan pedangnya yang panjang dan melengkung di atas pundaknya. Sambil tersenyum genit dia melambaikan tangannya pada wanita-wanita yang berteriak histeris. Kai memiliki senyum yang manis dan menggoda. Mungkin itu sebabnya banyak yang tergila-gila padanya. Kai selalu dikenal dengan ikat kepala merahnya yang panjang melambai. Sedangkan rambutnya sendiri berwarna agak kepirangan dan berdiri. Dia selalu mengenakan kaos longgar, celana bahan, dan sepatu sandal dengan banyak tali. Dia menggunakan kain sebagai ikat pinggangnya sekaligus untuk menyelipkan pedangnya.

“Kalian semua akan dapat giliran, tenang saja,” ucap Kai lantang.

“Kai Matari,” seseorang bersuara berat memanggilnya. Kai menoleh cepat, lalu menaikkan alisnya karena heran. Yang memanggilnya adalah seorang pria berseragam prajurit yang ditemani oleh dua prajurit lainnya.

“Ya?” Kai memandang prajurit itu dengan penuh tanda tanya.

“Istana membutuhkanmu.”

***************************************************************

Kandidat keenam. Raffie Ichie, 21 tahun.

Malam mulai tinggi di kota Zhasar. Lampu-lampu jalan telah dinyalakan. Semakin sedikit orang yang berkeliaran. Diantara mereka ada satu pasangan muda yang berjalan bergandengan tangan. Keremangan cahaya bulan menyinari wajah mereka yang bahagia. Mereka mengobrol sambil bercanda tawa sepanjang jalan.

“Aku senang sekali hari ini bisa jalan-jalan seharian bersamamu,” ucap Izza manja. Dia melingkarkan tangannya di lengan Raffie, kekasihnya.

“Setiap hari juga bisa kalau kamu mau,” kata Raffie. “Lagipula aku sedang tidak terikat kontrak dengan siapa pun. Aku lagi bebas. Aku milikmu sepenuhnya.”

Izza tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Raffie. Dan Raffie melingkarkan lengannya di bahu Izza.

Raffie adalah seorang pria muda yang terkenal lembut dan baik hati. Dia ramah pada semua orang dan disayangi banyak orang. Dia tidak pernah berpikir dua kali jika ingin menolong sesama. Dan dengan alasan yang sama itu pula dia menjadi prajurit bayaran. Lebih untuk melindungi mereka yang lemah. Dan karena kebaikan hatinya juga, Raffie tidak pernah mendapatkan bayaran yang tinggi. Tapi itu tidak perlu dikhawatirkan, karena semua orang bersedia membantunya jika dia kekurangan. Raffie juga sangat sederhana, terlihat dari cara berpakaiannya. Kaos oblong dan celana pendek dengan ikat pinggag kecil tempat menyimpan pedangnya. Rambutnya merah, pendek, dan berantakan. Ia hanya mengenakan sandal biasa sebagai alas kaki. Penampilannya yang sangat sederhana itu membuat dia sering diremehkan oleh lawan-lawannya. Tapi ketika Raffie telah mencabut pedangnya, lawan-lawannya itu akan menyesal karena telah meremehkannya.

“Permisi,”

Raffie dan Izza berhenti. Mereka menoleh ke belakang. Tiga orang pria berpakaian prajurit duduk di atas kuda mereka masing-masing.

“Kau yang bernama Raffie Ichie?”

“Ya,” Raffie mengangguk.

“Istana membutuhkan Anda.”

***************************************************************

Kandidat ketujuh. Joy Meida, 20 tahun.

Faros adalah sebuah desa kecil di pinggir laut. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan. Desa itu sangat sepi, terlebih lagi di malam hari. Tidak ada satu pun orang yang terlihat keluar rumah kecuali satu orang, Joy. Joy punya kebiasaan memeriksa lingkungan sebelum tidur. Sejak kecil sudah begitu. Dia tidak bisa tidur dengan tenang sebelum yakin sekelilingnya aman. Akhirnya dia ditunjuk sebagai tukang patroli malam. Berkat dia pula tidak ada satu pun pencuri atau perampok yang berani beraksi di desa Faros. Joy adalah perempuan muda yang pendiam dan pemalu. Karena itu dia selalu mengenakan topi. Joy memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi. Rambutnya cokelat dan panjang. Selalu terjuntai dengan rapi hingga punggungnya. Joy berpakaian sangat biasa. Kaos, celana, dan sandal. Dia tidak memiliki pedang. Senjata yang dipilihnya adalah sebilah tombak yang panjang dengan mata tombak yang tajam dan bekilauan.

Setelah satu jam berpatroli Joy kembali ke rumahnya. Dia terheran dengan tiga ekor kuda yang diparkir di depan rumahnya. Dia masuk dan mendapati tiga orang prajurit pria sudah berada di rumahnya.

“Kamu sudah kembali,” sambut ibunya. “Mereka datang untuk mencarimu.”

“Kau Joy Meida, kan?”

“Benar sekali.”

“Saat ini istana sedang membutuhkan Anda.”

“Istana?” tanya Joy heran. “Ada masalah apa?”

“Kami tidak diperkenankan untuk cerita sekarang,” jawab si prajurit. “Silahkan Anda ikut kami ke istana. Kamu bisa mendapatkan jawabannya di sana.”

****************************************************************

Itulah tujuh kandidat pertama yang akan menjadi pasukan khusus Lockerz. Zeck, Key, Nadz, Mizzu, Kai, Raffie, dan Joy. Setelah prajurit utusan istana menjemput, mereka segera berangkat ke istana. Dan mengenal satu sama lain.

****************************************************************

Bersambung…

Story by Zenin Octa

Lockerz Warriors (ReWrite) — Prolog

Tahun 2021, pemanasan global di dunia semakin parah. Para ilmuwan memprediksikan dalam waktu kurang dari 10 tahun bumi tidak akan bisa ditinggali lagi. Mereka mulai mencari tempat lain di luar angkasa yang kelak bisa dijadikan sebagai pengganti bumi. Negara-negara maju menyumbangkan banyak uang untuk membangun armada-armada pesawat luar angkasa yang mampu melebihi kecepatan cahaya.

Tahun 2026, seorang astronom Amerika menemukan sebuah planet di gugusan rasi bintang Libra yang memiliki kemiripan dengan bumi. Tiga tim peneliti pun dikirim ke planet yang jaraknya sekitar 21 tahun cahaya itu.

Tahun 2029, bencana alam semakin sering terjadi di setiap belahan bumi. Sementara penelitian terhadap planet baru belum juga selesai. Bentuk permukaan bumi perlahan-lahan mulai berubah. Es di kutub utara telah mencair. Banjir bandang melanda seluruh wilayah bumi bagian utara. Salju turun di sepanjang garis katulistiwa. Gempa bumi, gunung meletus, dan badai tsunami mengamuk di seluruh permukaan Bumi. Milyaran manusia kehilangan nyawa.

Tahun 2030, tim peneliti telah kembali dan menyatakan bahwa planet pengganti telah siap untuk dihuni. Namun jumlah armada pesawat belum memenuhi jumlah yang diinginkan. Tapi mereka juga telah kehabisan waktu. Bumi telah berada diujung kepunahan. Maka penduduk negara-negara maju sebagai penyumbang terbesar terpaksa didahulukan, setelah itu baru negara-negara berkembang. Sementara negara-negara kecil terpaksa harus berjuang untuk menyelamatkan hidup mereka.

Awal tahun 2031, 500 pesawat luar angkasa yang masing-masing berpenumpang 10.000 jiwa dan hewan yang berpasang-pasangan dari setiap jenisnya diberangkatkan menuju planet baru.

Tahun 1 planet baru, lima juta penduduk bumi sampai di planet yang baru yang ukurannya sedikit lebih kecil dari planet Bumi. Planet baru itu diberi nama Terram. Nyaris tidak ada makhluk hidup yang hidup di sana selain makhluk-makhluk hidup tingkat rendah. Seolah-olah planet itu memang disiapkan untuk penduduk Bumi. Usia terbentuknya pun belum terlalu lama, bisa dikatakan planet itu masih hangat. 1000 tahun pertama manusia membangun dunia baru. Dunia yang satu, tidak ada lagi asal-usul negara sebelumnya. Semua orang adalah satu. Mereka hidup dalam damai. Dan mereka belajar dari kesalahan di bumi. Di Terram, tidak ada lagi teknologi yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Ilmu yang dipakai murni untuk kelangsungan hidup manusia. Semua menggunakan kekuatan alam. Manusia hidup berdampingan dengan alam. Sampai bencana itu datang.

Tahun 1001, hujan meteor menimpa hampir di seluruh permukaan Terram. Lebih dari setengah populasi yang sudah berkembang pun musnah. Pada masa itu, untuk pertama kalinya Terram mengalami masa-masa kelam. Namun manusia-manusia baru itu tidak menyerah. Mereka tetap hidup dan bertahan melewati waktu. Mereka kembali membangun dari awal.

Tahun 1025, dengan segala kerja keras dan saling bersatu padu, penduduk Terram berhasil bangkit kembali. Dan dengan satu suara bulat mereka membangun sebuah kerajaan dimana rajanya akan menjadi pemimpin seluruh Terram. Seorang raja dipilih dan Terram tumbuh menjadi kerajaan sekaligus planet yang makmur, serta kaya akan sumber alam. Tanahnya subur menghijau, lautnya biru jernih, udaranya bersih dan segar. Penduduknya pun hidup kecukupan dan sejahtera. Terram betul-betul planet yang damai.

Tahun 1340, untuk pertama kalinya, kedamaian hilang di bumi Terram. Sekelompok orang hendak menggulingkan kekuasaan Sang Raja. Mereka bahkan berhasil membunuh Sang Raja dan Permaisurinya, namun mereka tidak berhasil merebut tahta karena Putri Raja masih hidup. Para pasukan elite berhasil melindungi Putri dan menyelamatkan tahta. Tapi perang belum berakhir. Diam-diam para pemberontak membangun kembali kekuatan mereka. Sementara pihak istana, berusaha membentuk sebuah pasukan khusus untuk melindungi Putri dan menyelamatkan Terram dari kehancuran. Pasukan khusus ini akan dianggotai oleh petarung-petarung muda yang tangguh dan pilih tanding. Kelak, pasukan khusus ini akan dikenal dengan nama…

LOCKERZ WARRIORS

Bersambung….

Story by Zenin Octa 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.