Setiap menjelang waktu makan, tidak ada satu pun pekerja di dapur istana yang bisa bersantai. Para juru masak sibuk mengolah makanan sementara para asistennya sibuk membantu dan menyiapkan segala keperluan. Suasana di dapur istana pada saat-saat seperti itu benar-benar ramai dan sibuk, sehingga jika ada orang asing yang masuk tidak akan menjadi perhatian. Jangankan diperhatikan, dilihat saja tidak. Seseorang ini masuk dari pintu belakang. Benar-benar tidak ada satu pun yang memperhatikan. Orang ini mendekati seorang juru masak yang terdekat.
“Dimana bahan makanan untuk para tahanan yang baru datang tadi?” tanya orang ini.
“Ada di pojok sana,” jawab si juru masak. Dia menunjuk pada suatu arah tapi tidak mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang bertanya. Dia mengira orang itu adalah salah satu asistennya. “Tapi itu nanti saja diurus. Menu buat Putri saja belum selesai. Lebih baik kau kembali pada pekerjaanmu.”
“Tentu,” jawab orang itu. Tapi dia bukan salah satu asisten juru masak, jadi dia tidak melakukan apa yang dirusuh. Dia menuju tempat yang ditunjuk si juru masak tadi. Tanpa ada yang memperdulikan kehadirannya, dia berjalan dengan santai ke pojok ruangan. Di sana ada bahan makanan yang belum diolah tapi sudah dibagi menjadi tiga. Lalu ada catatan kecil yang ditempel pada dinding “Makanan Untuk 3 Buronan.” Orang ini tersenyum, apa yang dicarinya telah dia temukan. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada satu orang pun yang memperhatikan dia. Lalu dia mengeluarkan botol kecil dari kantongnya. Botol kecil itu berisi cairan berwarna biru. Dia meneteskan cairan biru itu pada bahan makanan yang telah disiapkan tadi. Setelah itu dia melenggang keluar dengan santai tanpa ada satu pun orang yang curiga.
*****************************************************************
Begitu makan malam selesai, para Lockerz langsung menuju ruang tahanan bawah tanah. Zeck memimpin di depan dan berjalan dengan cepat, dia tidak sabar untuk segera mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari para tahanannya. Setelah prajurit yang berjaga di depan ruang tahanan membukakan pintu, Zeck langsung berhambur masuk. Tapi kemudian Zeck mengerutkan dahinya karena heran. Ketiga orang itu tertidur, atau terlihat seperti orang tidur.
“Kalian!” bentak Zeck. “Bagaimana bisa kalian tidur di saat seperti ini?!”
Tidak ada jawaban. Ketiga orang itu masih diam. Zeck mendekat dan memperhatikan tubuh mereka dengan seksama. Kening Zeck semakin berkerut saat melihat tidak ada gerakan nafas dari tubuh ketiga orang itu. Untuk memastikan Zeck mendekat dan memeriksa nadi mereka satu per satu. Air muka Zeck berubah, matanya yang kecil melotot sangat lebar. Dia menoleh cepat pada tiga piring yang sudah kosong di meja. Zeck memungut salah satunya dan mengendus.
“Nadz!” panggil Zeck.
“Ya?” dengan segera Nadz muncul di ambang pintu.
“Apa Ulrica bisa mendeteksi racun?”
“Tentu,” jawab Nadz dengan ekspresi sedikit bingung. Lalu ia membawa Ulrica masuk. Nadz menyodorkan salah satu piring ke ujung hidung Ulrica. Serigala betina putih itu mengendusnya sebentar lalu menggonggong dua kali sambil melangkah mundur. Gerakannya seperti menolak sesuatu yang akan diberikan padanya.
“Ada sisa racun dalam piring ini,” kata Nadz.
“Keparat!!” Zeck mengangkat meja dan membantingnya. Tiga piring dan gelas yang berada di atasnya pecah berantakan. Sedangkan mejanya terjatuh dalam posisi terbalik setelah menghantam tembok. Tindakan Zeck itu membuat Nadz terlonjak kaget.
“Pengkhianat sialan ini ingin mempermainkan kita!” teriak Zeck dengan penuh amarah. “Penjaga!”
Dua penjaga ruang tahanan masuk.
“Kalian pasti tahu siapa yang mengantarkan makanan ke sini kan?!” tanya Zeck masih dengan nada tinggi.
“Ya, kami tahu,” jawab kedua penjaga itu bersamaan.
“Aku ingin kalian panggil dia ke sini sekarang juga!”
“Baik,” kedua penjaga itu segera keluar dan pergi untuk memanggil orang yang tadi bertugas membawa makanan untuk ketiga tahanan.
“Ada apa?” Key masuk disusul Mizzu dan Raffie.
“Tahanan kita mati,” Nadz yang menjawab. “Diracun. Sekarang kita menunggu orang yang tadi bertugas mengantar makanan untuk mencari keterangan.”
Setelah menunggu hampir sepuluh menit, dan Zeck mulai kehilangan kesabaran, dua penjaga kembali dengan seorang perempuan. Perempuan ini bertubuh kecil dan pendek, rambutnya diikat, dan wajahnya tampak kelelahan.
“Kau yang mengantarkan makanan untuk tahanan ini?!” bentak Zeck.
“Iya,” perempuan itu mengangguk. Tampangnya ketakutan dan badannya mulai gemetaran.
“Kau juga yang memasukkan racun ke dalam makanan mereka?!” Zeck mendekatkan wajahnya dan menatap si perempuan itu tajam.
“Tidak,” jawab perempuan itu dengan suara bergetar.
“Jangan bohong!” Zeck meraih lengan perempuan itu dan mencengkeramnya erat.
“Saya tidak bohong,” kata si perempuan yang hampir menangis itu. Matanya sudah berkaca-kaca. “Saya berani bersumpah. Saya hanya mengantarkan makanan itu saja. Saya tidak melakukan hal yang lain.”
Zeck masih menatap tajam mata si perempuan. Mencoba mencari kebenaran dari sinar mata perempuan itu. Sinar mata itu tampak benar-benar ketakutan dan jujur. Akhirnya Zeck melepaskan cengkeramannya, dan mulai bicara sedikit pelan.
“Apa kau tahu siapa yang memasak makanan untuk mereka?”
“Saya tahu.”
“Bisa antarkan aku padanya?”
“Bisa.”
“Bagus. Nadz dan Key, kalian ikut aku. Mizzu, Raffie, dan Joy, kalian laporkan ini pada Putri dan Jenderal Guarrdo. Yang lainnya tetap di sini.”
Mizzu, Raffie, dan Joy segera melaksanakan tugas mereka. Sementara Zeck, Nadz, dan Key mengikuti si perempuan pengantar makanan menuju kamar juru masak yang bertugas memasak makanan untuk para tahanan.
“Karel!” Zeck menggedor-gedor pintu kamar si juru masak. Tidak lama kemudian si pemilik kamar membuka pintu. Pintu belum terbuka sepenuhnya, Zeck yang masih dikuasai rasa amarah langsung memaksa masuk dan mendorong Karel ke dalam.
“Kau yang meracuni tiga tahananku?!” Zeck menarik kerah baju Karel.
“Apa yang kau bicarakan?” Karel balik bertanya.
“Tiga tahananku mati keracunan!” bentak Zeck. “Ada sisa racun di piring mereka. Kau yang memasak makanan untuk mereka, kan?!”
“Memang benar aku yang memasak,” jawab Karel, si pria juruk masak. “Tapi aku tidak tahu apa-apa tentang racun. Sungguh. Lagipula apa keuntungan buatku meracuni tahananmu?”
Zeck memberikan tatapan tajam menusuk pada Karel, sama seperti yang dia lakukan pada si perempuan pengantar makanan tadi. Kali ini pun Karel berkata jujur. Zeck melepaskan dia.
“Lalu bagaimana racun bisa berada dalam makanan mereka?” tanya Zeck.
“Aku sama sekali tidak tahu,” jawab Karel.
“Apa kau tidak melihat ada orang yang mencurigakan ketika, atau sebelum kau memasak makanan itu?” tanya Nadz.
“Entahlah,” Karel mengangkat kedua bahunya. “Di saat-saat sibuk seperti itu kami hanya fokus pada pekerjaan. Kami tidak memperhatikan hal lain.”
“Bagaimana dengan salah satu asistenmu?” sekarang giliran Key yang bertanya.
“Sepanjang pengawasanku tidak ada yang mencurigakan. Kecuali…” Karel berhenti karena teringat sesuatu.
“Kecuali apa?” desak Zeck.
“Ada yang bertanya di mana bahan makanan untuk para tahanan yang baru datang.”
“Apakah dia salah satu asistenmu?”
“Mungkin,” jawab Karel ragu.
“Mungkin?”
“Aku terlalu sibuk jadi aku tidak melihat wajahnya,” jawab Karel. “Semua orang sibuk. Aku yakin tidak ada yang memperhatikannya. Lagipula tidak ada laporan yang aneh-aneh dari para asistenku.”
Zeck menghela nafas putus asa. Kini semua petunjuk kembali dari nol.
Di sisi lain, Mizzu, Raffie, dan Joy telah melaporkan apa yang terjadi pada Jenderal Guarrdo dan Kolonel Tara. Kemudian Zeck, Key, dan Nadz pun menghadap untuk melaporkan apa yang mereka dapatkan. Selanjutnya para Lockerz bersama dengan Guarrdo, Tara, dan beberapa pejabat istana lainnya berkumpul untuk membicarakan mengenai kemungkinan adanya penyusup atau pengkhianat di istana. Sebagai hasil, malam itu juga seluruh istana digeledah. Setiap pelayan, penjaga, prajurit, dan pekerja di istana itu semuanya di periksa satu per satu. Pasukan Lockerz terjun langsung untuk membantu penggeledahan masal itu. Karena begitu banyaknya penghuni istana, proses penggeledahan berlangsung sangat lama dan baru selesai ketika fajar hampir menyingsing. Dan setelah semua kerja keras semalaman tanpa tidur itu, mereka tidak mendapatkan hasil apa-apa. Semua orang terbukti bersih dari segala macam kecurigaan. Bukti-bukti bekas racun pun tidak ditemukan. Para Lockerz kelelahan dan mereka tidur sampai matahari berada tepat di atas kepala.
*****************************************************************
Suara gelak tawa memenuhi udara di ruang kerja Tara. Hanya tiga orang yang berada di ruangan itu, tapi suara tawa yang terdengar lebih dari tiga orang.
“Kalian lihat wajah Zeck ketika akhirnya mereka tidak menemukan apa-apa sabagai bukti adanya pengkhianatan?” tanya Tara dengan nada ceria. “Aku benar-benar puas mempermainkan mereka,” suara tawa Tara terdengar paling keras.
“Anda benar-benar jenius, Kolonel,” puji Letnan Juven. “Dan Kapten Ruci menjalankan tugasnya dengan baik,” Juven menoleh pada kawannya yang duduk di sebelah.
“Juru masak itu saja yang ceroboh,” ucap Kapten Ruci. Ketiga orang itu kembali tertawa. Setelah beberapa menit dan merasa puas, mereka berhenti. Dimulai dari Tara yang raut wajahnya tiba-tiba menjadi serius.
“Sekarang kita masukkan Guarrdo dalam permainan,” kata Tara. “Aku akan menjatuhkan nama baiknya sampai ke dasar jurang. Semua kepercayaan terhadap dirinya akan hilang dan semua mata akan mulai memandang padaku.”
“Sepertinya Anda telah merencanakan semuanya dengan matang,” kata Juven.
“Tentu saja,” sahut Tara. “Aku adalah orang yang sangat berhati-hati dan penuh perhitungan. Aku merancang rencanaku dengan matang dan melaksanakannya dengan sempurna.”
“Apa ada sesuatu yang bisa kami bantu untuk mewujudkan rencana itu?” tanya Juven.
“Tidak,” jawab Tara. “Tugas kalian masih sama, mencari latar belakang enam Lockerz baru itu. Sementara untuk menjatuhkan Guarrdo, aku bisa melakukannya sendiri. Ah tapi mungkin kalian bisa membantuku sedikit”
“Apa saja, Kolonel.”
“Aku ingin kalian siagakan pasukan yang telah ku latih khusus itu malam ini juga,” kata Tara. “Aku punya tugas untuk mereka. Sekaligus aku ingin melihat hasil latihan mereka selama ini.”
“Maksud Anda pasukan ninja?” Juven meyakinkan.
“Ya,” Tara mengangguk. “Pasukan ninja, untuk pertama kalinya muncul di Terram. Tidak akan ada yang pernah menduga hal ini. Aku memang jenius,” Tara tersenyum memuji dirinya sendiri.
****************************************************************
Kai keluar dari kamarnya dan merentangkan kedua tangannya ke samping sambil menguap. Kamar Kai berada di luar dan menghadap ke taman. Kai melangkah ke depan dan menyipitkan matanya karena matahari siang yang menyilaukan. Tapi ia juga menikmati sinar matahari yang terasa hangat di kulitnya itu. Kemudian terdengar sesuatu dari perutnya. Suara lapar.
“Aku lapar sekali,” Kai memegangi perutnya. “Mudah-mudahan aku belum melewatkan waktu makan siang,” kata Kai sambil berbalik dan berjalan memasuki istana. Dia berpapasan dengan Nadz yang kebetulan juga baru saja keluar dari kamarnya bersama Ulrica.
“Halo, cantik,” sapa Kai. “Rupanya bukan aku saja yang baru bangun.”
Nadz tidak menggubris Kai, ia berjalan menyusuri lorong menuju ruang makan.
“Apa kau selalu tidur bersama serigalamu?” tanya Kai yang berusaha berjalan sejajar dengan Nadz.
“Kalau iya kenapa?” kata Nadz ketus.
“Tidak apa-apa sih,” sahut Kai. “Kamu itu galak sekali ya? Susah lho cari pacar kalau kamu galak.”
“Bukan urusanmu,” hardik Nadz, lebih ketus dari sebelumnya. Lalu ia berjalan lebih cepat dan meninggalkan Kai di belakang.
Sampai di ruang makan, Lockerz yang lain telah berkumpul mengelilingi meja. Berbeda dari biasanya, siang itu mereka akan makan siang bersama Putri dan beberapa pejabat istana. Hal itu sengaja dilakukan karena mereka ingin sekalian membahas mengenai penggeledahan semalam dan langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk ke depan. Alhasil, acara makan siang itu berlangsung hingga dua jam. Dan seperti biasanya, Putri tampak sangat bosan dan tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang dibicarakan. Tapi ia menggunakan kesempatan itu untuk mencuri-curi pandang dengan salah satu anggota Lockerz yang ia suka. Bibirnya tersenyum tipis ketika anggota Lockerz itu balas memandangnya. Setelah dua jam yang melelahkan, akhirnya rapat itu selesai dan Putri Nyssa sama sekali tidak tahu apa hasil dari rapat itu, yang ia tahu adalah penderitaannya telah berakhir. Putri Nyssa berdiri dan menerima hormat dari para pejabat istana dan pasukan khusus Lokcerz.
Begitu Putri Nyssa beranjak pergi dari ruang makan bersama dua orang pengawalnya, Kai segera berlari kecil menyusulnya.
“Putri,” panggil Kai.
Putri Nyssa berhenti dan menoleh.
“Maaf jika hamba lancang,” ucap Kai sopan. “Apa Yang Mulia ada waktu? Hamba hanya ingin berbincang-bincang dan mengenal Yang Mulia lebih dekat.”
Putri Nyssa tersenyum malu. Dia mendekati Kai dengan wajah tertunduk. Setelah jarak keduanya sangat dekat, Putri Nyssa yang lebih pendek dari Kai berjinjit dan mendekatkan mulutnya ke telinga Kai.
“Datanglah ke kamarku setelah jam 9 malam nanti,” bisiknya.
“Pasti,” Kai balas berbisik sambil mengangguk pelan. Setelah itu Putri Nyssa kembali pada pengawalnya dan pergi.
“Hore!” Kai membuang tinju ke udara dengan girang. “Malam ini aku tidak akan sendirian.”
****************************************************************
Setelah semua kerja keras tanpa hasil hari sebelumnya di tambah dengan penggeledahan yang melelahkan, Zeck memutuskan untuk mengistirahatkan teman-temannya. Jadi hari itu para Lockerz sama sekali tidak ada kerjaan. Kecuali tetap waspada terhadap keselamatan Putri, tidak ada hal lain yang mereka kerjakan hingga akhirnya malam tiba.
Sudah 30 menit Zeck berbaring di atas tempat tidurnya, tapi matanya belum juga bisa terpejam. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan dan masalah tentang si pengkhianat yang sangat lihai ini. Matanya menerawang ke langit-langit. Zeck menghela nafas panjang dan pikirannya teralihkan untuk sesaat. Dia merindukan istrinya, Phika. Wajah muram Zeck menjadi senyum ketika dia mengingat wajah istrinya yang cantik dan tingkah lakunya yang selalu menyebalkan, namun Zeck sangat mencintainya. Entah kapan Zeck bisa menemui Phika lagi. Tapi kemudian masalah pengkhianat kembali singgah dipikirannya. Akhirnya Zeck memutuskan untuk mencari segelas anggur yang bisa menenangkannya. Ia keluar dari kamarnya dan langsung menuju dapur istana untuk mencari anggur yang ada. Ia mengambil sebuah gelas kosong dan mengisinya penuh dengan anggur putih. Lalu ia membawanya ke kamar. Dalam perjalanannya kembali ke kamar, dia melihat seseorang sedang berdiri di pinggir kolam di halaman istana bagian samping. Orang itu berdiri tepat di bawah lentera. Zeck penasaran dan mendatanginya.
“Kau belum tidur?” tanya Zeck.
Mizzu terkejut dan menoleh cepat. “Belum,” Mizzu menggeleng.
“Tidak bisa tidur?”
“Begitulah.”
“Kau mau?” Zeck menawarkan anggur putihnya.
“Tidak, terima kasih,” tolak Mizzu sopan. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah kolam dengan tatapan mata menerawang.
“Aku tahu kenapa kau tidak bisa tidur,” kata Zeck setelah meneguk sedikit anggur putihnya. “Kau pasti teringat padanya dan merindukannya. Iya kan?”
“Siapa?” Mizzu menoleh pada Zeck.
” Suamimu mungkin,” jawab Zeck.
“Aku tidak pernah bilang kalau aku sudah menikah,” kata Mizzu.
“Cincin di jarimu itu yang bilang,” Zeck menunjuk cincin yang melingkar di jari manis Mizzu dengan gerakan kepalanya.
“Aku juga mengenakannya,” Zeck mengangkat tangan kanannya dan memamerkan cincin emas yang melingkar di jari manisnya.
“Iya,” Mizzu kembali tertunduk. “Aku memang sedang memikirkannya. Dia selalu ada di sisiku dan menghilangkan semua kelelahan dalam diriku. Aku belum terbiasa tidur sendirian tanpa dia.”
“Kau mau aku menemanimu tidur?”
“Hah?” Mizzu menoleh cepat pada Zeck dan melihat cengiran jahil di wajah pemimpin Lockerz itu.
“Kau bukan tipeku,” balas Mizzu.
Zeck tertawa mendengarnya.
“Bagaimana dengan istrimu?” tanya Mizzu.
“Dia adalah perempuan tercantik yang pernah ada di Terram. Dia…” Zeck tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam istana.
“Putri!” serentak Zeck dan Mizzu berlari ke dalam istana.
****************************************************************
Waktu menunjukkan pukul 9 lebih 5 menit saat Kai berjalan menyusuri salah satu lorong di dalam istana. Dia menaiki tangga menuju lantai atas. Dengan langkah ringan dan wajah yang berseri dia menuju kamar tidur Putri. Tapi dua pengawal sedang bersiaga penuh di depan kamar Putri. Kai menyapa mereka dengan ramah.
“Tahukan kalian tadi siang Putri Nyssa menyuruhku untuk berjaga di sini?” tanya Kai kemudian.
“Kami tidak tahu,” kata dua penjaga itu bersamaan.
“Yah dia bilang begitu,” Kai berusaha meyakinkan. “Jadi menurutku khusus malam ini kalian boleh istirahat.”
“Kami tidak akan pergi tanpa seizin Putri,” kata salah seorang penjaga.
“Aku yang akan menjaganya di sini, kalian tidak perlu khawatir. Apa kalian tidak percaya padaku? Aku yakin kalian pasti lelah dan bosan harus berjaga terus setiap malam. Sekali-sekali istirahatlah, aku yakin Putri Nyssa tidak keberatan. Nanti aku yang mengatakan padanya. Aku yang akan bertanggung jawab.”
Akhirnya setelah dibujuk berkali-kali kedua penjaga itu pun mau mengikuti perkataan Kai. Lalu Kai berdiri di depan pintu dengan posisi yang waspada, sampai kedua penjaga tadi benar-benar hilang dari pandangannya, Kai mengetuk pintu.
“Siapa?” tanya suara dari dalam.
“Ini Kai,” jawab Kai.
“Masuklah.”
Kai masuk dengan perlahan dan hati-hati. Seperti maling yang tidak ingin diketahui kehadirannya. Kamar tidur Putri sangat besar dan luas, dan juga harum. Lantainya berlapis karpet yang sangat lembut, hingga Kai merasa sedang berdiri di atas rumput. Kai melangkah ke tengah ruangan sambil mencari di mana Putri berada?
“Kau tepat waktu juga,” suara itu berasal dari tempat tidur.
Kai menoleh ke arah tempat tidur yang besar dan tertutup oleh kelambu tipis. Kai bisa melihat sosok Putri sedang duduk bersandar di atas tempat tidur.
“Kemarilah,” kata Putri. “Bukankah kau ingin mengenalku lebih dekat?”
“Iya,” Kai berjalan menuju tempat tidur. Dia melepaskan pedangnya dan meletakkannya di samping tempat tidur. Lalu dengan perlahan dia menyibak kelambu yang menutupi. Putri Nyssa tersenyum memandangnya dan Kai takjub dibuatnya. Rambut Putri Nyssa yang selalu digulung kini tergerai indah berombak. Putri Nyssa mengenakan pakaian tidur berwarna merah muda yang terbuat dari sutra dan sangat lembut.
“Apa tidak apa-apa kalau aku…” Kai tampak ragu.
“Tidak apa-apa,” kata Putri. “Duduklah di sampingku,” Putri menepuk kasur di sampingnya.
“Baiklah, Putri,” Kai naik ke tempat tidur dan duduk di samping Putri.
“Panggil namaku saja,” kata Putri setelah Kai duduk di sampingnya. “Nyssa.”
Selanjutnya mereka berdua terlibat dalam satu obrolan ringan. Mereka saling mengenal satu sama lain, saling bercerita tentang diri masing-masing. Terkadang diselingi dengan canda dan tawa. Nyssa merasa sangat nyaman dengan Kai, tanpa segan dia memeluk lengan Kai dan bersandar di bahunya.
Tanpa terasa satu jam sudah mereka tenggelam dalam obrolan. Dan entah kenapa tiba-tiba susana menjadi lebih intim. Semua berlalu begitu cepat. Tapi berawal pada satu momen yang tepat. Di tengah canda tanpa sengaja Kai menoleh ke kiri dan wajahnya bertemu dengan wajah Nyssa. Jarak keduanya begitu dekat. Entah siapa yang memulai duluan tapi pada detik berikutnya bibir mereka sudah saling bertemu. Keduanya pun hanyut ke dalam perasaan yang mulai membara. Tapi belum lama kemesraan itu berlangsung, tiba-tiba Kai berhenti. Wajahnya serius dan waspada.
“Ada apa?” tanya Nyssa.
“Sssttt,” bisik Kai. Dia memungut pedangnya dan beranjak dari tempat tidur. Dia menghunuskan pedang dan memegangnya dengan kedua tangan. Dengan langkah yang sangat waspada dia membuka salah satu pintu yang menuju balkon. Ada tiga pintu menuju balkon di kamar itu. Kai membuka salah satunya dan melangkah keluar dengan penuh hati-hati. Tidak ada siapa-siapa, tapi Kai yakin tadi sempat mendengar sesuatu yang mencurigakan. Kai bisa merasakan kehadiran seseorang di dekat situ. Akhirnya Kai masuk lagi dan mencoba pintu kedua. Aneh, pikirnya. Perasaannya semakin tidak enak, tapi dia tidak melihat apa-apa. Lalu tiba-tiba ia menyadari sesuatu, ia mendongak tapi sudah terlambat. Seseorang berpakaian serba hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki melompat ke arahnya. Kai terjatuh dan pedang terlepas dari tangannya. Sosok serba hitam itu langsung menghajar Kai bertubi-tubi tanpa memberinya kesempatan untuk melindungi diri. Kemudian sosok hitam itu masuk ke kamar tidur Putri, dilanjutkan dengan suara teriakan Putri. Sekuat tenaga Kai berdiri dan memungut pedangnya. Dia lari ke dalam tapi lagi-lagi dia terlambat. Sosok-sosok hitam lainnya telah berada disana. Satu diantaranya menangkap Putri dan mengarahkan mata pisau ke leher Putri. Lalu datang satu lagi yang kini berdiri di belakang Kai.
“Lepaskan dia,” ancam Kai.
“Kau tidak bisa mengancam kami, anak muda,” kata salah seorang sosok hitam itu. “Letakkan pedangmu atau ku bunuh Putri sekarang juga.”
Kai tidak punya pilihan, ia terpaksa menjatuhkan pedangnya dan mengangkat kedua tangannya. Lalu dua sosok-sosok hitam itu melompat keluar sambil membawa Putri. Kai hendak mengejar tapi sosok hitam yang berada di belakangnya berhasil menyobek pundaknya dengan pedangnya yang tajam. Kai berteriak kesakitan dan jatuh berlutut di lantai. Sekejap kemudian sosok-sosok hitam telah lenyap, tepat bersamaan dengan terbukanya pintu kamar tidur Putri.
Beberapa prajurit masuk berhamburan. Mereka semua terkejut mengetahui Putri telah menghilang dan Kai dalam keadaan luka parah. Tidak lama kemudian Zeck dan Mizzu sampai di kamar itu. Mereka segera mendekati Kai yang sekarang duduk di sudut tempat tidur.
“Kai, kau terluka?” kata Zeck.
“Iya,” Kai meringis kesakitan memegangi pundak kanannya. Darah segar mengalir deras dari pundaknya.
“Kau harus segera dibawa ke dokter,” sahut Mizzu.
“Putri diculik,” kata Kai dengan nada terengah karena menahan sakit. “Ada empat orang… dan mereka semua… berpakaian serba hitam… hanya mata saja… yang kelihatan… jadi aku… tidak mengenali… wajah mereka…” setelah menyelesaikan kalimatnya yang terbata, Kai jatuh terbaring dengan mata terpejam.
“Kai!” seru Zeck dan Mizzu bersamaan.
“Dia pingsan,” kata Zeck lega setelah melihat dada Kai masih bergerak naik turun.
“Dia kehabisan banyak darah.” kata Mizzu.
Lalu anggota Lockerz lainnya datang. Zeck segera menceritakan apa yang terjadi.
“Mereka hilang tanpa jejak,” Zeck mengakhiri ceritanya.
“Ulrica bisa melacaknya,” sahut Nadz. Lalu dia membawa Ulrica ke balkon, tempat para sosok-sosok hitam tadi bersembunyi. Nadz memberikan waktu pada serigalanya untuk mengendus setiap sudut balkon. Serigala putih itu bahkan memanjat dinding balkon karena mencium aroma yang lain di dinding bagian atas. Sementara Nadz sendiri menyebarkan pandangannya ke gelapnya malam. Dia berharap melihat sesuatu atau bayangan yang mencurigakan, tapi Nadz tidak menemukan siapa-siapa. Lalu Ulrica mengerang pelan, memberi tahu majikannya kalau dia sudah menyimpan aroma asing itu di dalam ingatannya.
“Ulrica sudah mengenali bau mereka,” kata Nadz sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Saat itu beberapa orang perawat sedang memboyong tubuh Kai dengan tandu. “Kita bisa melakukan pencarian malam ini juga,” kata Nadz lagi.
“Tentu,” Zeck mengangguk. “Mizzu, Raffie, dan White, kalian ikut Nadz mencari Putri. Sekarang juga!”
“Baik!” jawab keempat orang serentak, lalu mereka segera pergi untuk mencari jejak Sang Putri.
******************************************************************
Bersambung
Story by Zenin Octa